Denpasar – Sektor pariwisata nasional mencatatkan rekor penyerapan tenaga kerja tertinggi dalam satu dekade terakhir.
Data Kementerian Pariwisata menunjukkan sebanyak 25,91 juta orang terserap dalam ekosistem pariwisata sepanjang tahun 2025.
Capaian tersebut menempatkan sektor ini sebagai penyerap tenaga kerja terbesar ketiga di Indonesia, tepat di bawah sektor pertanian dan perdagangan.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyatakan bahwa angka tersebut mencakup seluruh lapisan ekosistem, mulai dari perhotelan hingga ekonomi kreatif.
“Jumlah tenaga kerja yang terserap sektor pariwisata pada 2025 merupakan yang terbesar ketiga setelah sektor pertanian dan perdagangan. Hal ini tentunya memberikan dampak atau peluang bagi masyarakat untuk berkarya, bekerja, dan memperoleh penghasilan di sektor pariwisata,” ujar Widiyanti, Selasa (20/10).
Widiyanti menambahkan, pertumbuhan tenaga kerja ini berbanding lurus dengan arus investasi yang masuk ke dalam negeri.
Sepanjang tahun 2025, total investasi di sektor pariwisata tercatat mencapai Rp73,56 triliun.
Tren positif tersebut berlanjut pada semester pertama tahun 2026 dengan realisasi investasi sebesar Rp39,68 triliun.
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata turut menjadi kontributor utama dalam penciptaan lapangan kerja baru.
Tercatat ada 1.858 tenaga kerja baru yang terserap di enam KEK Pariwisata pada semester pertama 2026 dengan nilai investasi Rp1,4 triliun.
Sementara itu, lima KEK lainnya yang memiliki aktivitas pariwisata menyumbang investasi sebesar Rp4,5 triliun dan menyerap 1.621 tenaga kerja.
“Investasi tersebut bukan hanya berarti pembangunan hotel atau fasilitas baru. Di belakang investasi terdapat kegiatan usaha, kebutuhan terhadap barang dan jasa, serta peluang penciptaan pekerjaan,” jelas Widiyanti.
Pemerintah juga mengimplementasikan sejumlah insentif fiskal dan non-fiskal guna menjaga keberlangsungan industri.
Salah satunya adalah program PPh 21 yang ditanggung pemerintah bagi pekerja pariwisata dengan penghasilan hingga Rp10 juta per bulan.
Kebijakan ini diproyeksikan akan memberikan manfaat kepada sekitar 552.000 pekerja di seluruh Indonesia.
Di sisi lain, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menyoroti pentingnya pemerataan ekonomi melalui pengembangan desa wisata.
Hingga September 2026, lebih dari 6.300 desa wisata telah terdaftar dalam Jaringan Desa Wisata (Jadesta).
Hasil pemantauan pada 66 desa wisata menunjukkan peningkatan pendapatan desa sebesar 29,62 persen, yakni dari Rp46,05 miliar menjadi Rp59,70 miliar pada periode 2024-2025.
“Inilah salah satu gambaran paling sederhana tentang pariwisata berdampak. Pariwisata dengan demikian tidak hanya membawa orang menuju desa. Pariwisata dapat membawa peluang ekonomi lebih dekat kepada masyarakat,” ungkap Ni Luh.
Peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara ke desa-desa wisata tercatat melonjak 35,48 persen.
Jumlah wisatawan nusantara yang berkunjung ke desa wisata juga tumbuh signifikan sebesar 45,17 persen.
Pertumbuhan ekonomi desa ini turut didorong oleh bertambahnya jumlah UMKM lokal serta kapasitas penginapan berbasis masyarakat.
Prestasi internasional juga diraih oleh desa-desa seperti Jatiluwih, Wukirsari, dan Pemuteran yang mendapatkan predikat UN Tourism Best Tourism Village.









