Jakarta – Aset kripto Bitcoin (BTC) mencatatkan lonjakan nilai signifikan dengan menembus level psikologis US$ 71.000 pada Kamis (20/8/2026).
Data Coinmarketcap menunjukkan harga Bitcoin berada di posisi US$ 71.668,69 per pukul 16.56 WIB.
Angka tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 11,37% dalam kurun waktu 24 jam terakhir.
Secara akumulatif dalam sepekan terakhir, aset digital dengan kapitalisasi pasar terbesar ini telah menguat sebesar 12,48%.
Lonjakan harga ini dipicu oleh pergeseran kebijakan moneter di Amerika Serikat yang memengaruhi sentimen pasar keuangan global.
Departemen Keuangan AS resmi mengumumkan peningkatan skala program pembelian kembali atau buyback obligasi Treasury bertenor panjang.
Kebijakan yang diumumkan pada 19 Agustus tersebut menetapkan kenaikan volume operasi menjadi sedikitnya US$ 4 miliar per transaksi.
Jumlah tersebut naik dua kali lipat dibandingkan kapasitas sebelumnya yang hanya sebesar US$ 2 miliar per operasi.
Kebijakan ini akan mulai diimplementasikan secara efektif mulai September hingga awal November 2026.
Langkah strategis tersebut diambil untuk memperbaiki likuiditas pasar obligasi sekaligus meredam tekanan pada instrumen Treasury jangka panjang.
Co-founder CryptoWatch sekaligus Pengelola Channel Duit Pintar, Christopher Tahir, menilai kebijakan fiskal tersebut sebagai katalis utama pergerakan harga.
“Khususnya untuk pergerakan harga kemarin, harga Bitcoin dipengaruhi utamanya oleh penambahan belanja obligasi jangka panjang AS oleh Departemen Keuangan AS,” ungkap Christopher.
Dampak kebijakan ini secara langsung menekan imbal hasil atau yield obligasi Treasury.
Penurunan yield tersebut secara otomatis mengurangi daya tarik aset berbasis pendapatan tetap di mata para investor.
Kondisi ini memberikan ruang bagi pelaku pasar untuk kembali melirik aset berisiko, termasuk aset kripto.
Selain faktor kebijakan fiskal, arus masuk dana ke produk Exchange Traded Fund (ETF) spot Bitcoin turut menjadi penyokong kuat kenaikan harga.
“Selain itu, adanya arus positif ke ETF spot Bitcoin tentunya memberikan dorongan tambahan dikarenakan perubahan sentimen dari Departemen Keuangan tersebut,” tambah Christopher.
Data SoSoValue mencatat, ETF Bitcoin spot di AS berhasil membukukan arus masuk bersih sebesar US$ 189,3 juta pada 18 Agustus.
Sehari sebelumnya, aliran modal masuk tercatat lebih tinggi, yakni mencapai US$ 297,6 juta.
Total arus dana masuk ke instrumen ETF Bitcoin spot mencapai hampir US$ 487 juta hanya dalam kurun waktu dua hari.
Tren penguatan ini tidak terbatas pada Bitcoin saja, melainkan merembet ke aset kripto lainnya.
Data Trading Economics mencatat Ether (ETH) berada di level US$ 2.295 pada Kamis (20/8/2026) pukul 16.26 WIB.
Ether mencatatkan kenaikan 1,94% dalam sehari dan menguat hingga 21,62% dalam hitungan satu pekan.
Kombinasi antara sentimen makro yang membaik serta konsistensi arus dana ETF diprediksi akan menjaga momentum penguatan Bitcoin ke depan.










