Jakarta – PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) kini tengah menjajaki opsi penambahan utang baru dari sektor perbankan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja perusahaan.

Langkah strategis ini diambil sebagai respons atas lonjakan biaya operasional, terutama pada komponen bahan bakar minyak (BBM) dan pemeliharaan armada yang terus membengkak.

Berdasarkan laporan Bloomberg pada Kamis (8/10), maskapai penerbangan nasional tersebut juga mempertimbangkan penerapan kebijakan lindung nilai atau hedging terhadap biaya bahan bakar.

Selain mencari pendanaan eksternal, perusahaan berencana mengoptimalkan sisa dana pembiayaan sebesar US$ 1,4 miliar atau setara Rp 25,05 triliun yang diperoleh dari sovereign wealth fund Danantara.

Dana tersebut direncanakan untuk dialokasikan guna menutupi kebutuhan perawatan pesawat dalam enam bulan ke depan.

Kebutuhan likuiditas ini mencuat setelah laporan keuangan semester pertama tahun 2026 menunjukkan ketimpangan antara kas perusahaan dan kewajiban yang harus dipenuhi.

Tercatat, kas perusahaan berada di angka US$ 624 juta atau Rp 11,17 triliun, sementara kewajiban lancar mencapai US$ 1,6 miliar atau sekitar Rp 28,6 triliun.

Managing Director Research PT Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menekankan pentingnya menjaga cadangan likuiditas dalam skala industri penerbangan global.

“Untuk maskapai dengan skala seperti Garuda, tolok ukur standar industri global adalah mempertahankan cadangan likuid sebesar 20% hingga 25% dari pendapatan tahunan. Idealnya, Garuda memiliki kas tidak terbatas sebesar US$ 720-900 juta untuk menghadapi potensi guncangan,” ujar Harry sebagaimana dikutip dari Bloomberg.

Harry menambahkan, tambahan pendanaan menjadi krusial dalam tiga hingga enam bulan ke depan mengingat tingginya biaya bahan bakar dan kerugian operasional yang mempercepat penggerusan kas perusahaan.

Pemerintah melalui kepemilikan saham sebesar 91% di bawah Danantara terus berupaya melakukan penyelamatan terhadap maskapai yang mempekerjakan sekitar 10 ribu karyawan tersebut.

Kondisi keuangan Garuda saat ini terbebani oleh defisit ekuitas sebesar US$ 52,2 juta atau Rp 934,14 miliar pada semester pertama 2026, meskipun pendapatan perusahaan tercatat naik 16% menjadi US$ 1,80 miliar.

Lonjakan biaya perawatan pesawat menjadi salah satu faktor dominan, dengan pengeluaran mencapai US$ 232 juta atau Rp 4,15 triliun pada semester pertama tahun ini, atau lebih dari tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Tantangan eksternal berupa fluktuasi harga minyak mentah dunia yang berada di kisaran US$ 100 per barel turut memperkeruh prospek pemulihan maskapai.

Dampak dari kondisi ini terlihat pada performa saham Garuda di bursa yang sempat menyentuh level terendah dalam 16 bulan terakhir, dengan penurunan akumulatif mencapai 47% sepanjang tahun 2026.

Meski demikian, optimisme tetap disuarakan oleh Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan maskapai pelat merah tersebut dapat meraih keuntungan pada tahun 2027.

Presiden mencatat bahwa perbaikan bertahap telah dilakukan, termasuk pengaktifan kembali sejumlah pesawat yang sebelumnya sempat tidak beroperasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *