Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan penurunan signifikan sebesar 115,44 poin atau 1,88 persen pada penutupan perdagangan Kamis (8/10/2026).

Indeks acuan domestik tersebut mendarat di posisi 6.031,28 saat perdagangan berakhir.

Tekanan serupa juga dialami oleh kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 yang terkoreksi 12,08 poin atau setara dengan 1,99 persen ke level 593,64.

Pelemahan ini selaras dengan tren negatif yang terjadi di bursa regional Asia pada hari yang sama.

Sentimen utama yang memicu aksi jual investor adalah ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga acuan The Fed pada akhir tahun 2026.

Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) September 2026 menjadi sorotan utama pelaku pasar global.

Dokumen tersebut mengindikasikan mayoritas pejabat bank sentral AS memperkirakan perlunya satu kali kenaikan suku bunga tambahan demi menjaga inflasi di bawah target 2 persen.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menjelaskan bahwa pasar merespons negatif sinyal tersebut.

“IHSG dan Bursa regional Asia melemah, pasar tampaknya dipengaruhi risalah The Fed menunjukkan mayoritas pejabat memperkirakan satu kali kenaikan suku bunga lagi pada 2026 untuk menjaga inflasi yang masih berada di atas target 2 persen,” ujar Nico dalam kajiannya, Kamis (8/10/2026).

Nico menambahkan bahwa para pembuat kebijakan di AS tetap bersikap sangat hati-hati terhadap data ekonomi yang masuk ke depan.

Selain kebijakan moneter, ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memperburuk kondisi pasar keuangan.

Kekhawatiran akan eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran telah mendorong harga minyak mentah dunia ke level yang lebih tinggi.

Situasi ini memicu kenaikan imbal hasil obligasi global serta menambah kekhawatiran baru terkait risiko inflasi yang persisten.

“Kondisi tersebut tentunya menambah volatilitas pasar,” ungkap Nico mengenai dinamika yang terjadi saat ini.

Ketidakpastian pasokan energi melalui Selat Hormuz juga menjadi faktor yang terus dipantau ketat oleh investor.

Laporan mengenai kemungkinan opsi serangan militer terhadap Iran menjelang pemilihan paruh waktu di AS turut memberikan tekanan pada sentimen risiko.

“Ini bertentangan dengan harapan umum bahwa Presiden Donald Trump akan menahan diri dari meningkatkan ketegangan dengan Teheran menjelang pemilihan November 2026,” kata Nico lebih lanjut.

Secara sektoral, pelemahan mendominasi lantai bursa dengan sektor energi mencatat penurunan terdalam sebesar 2,76 persen.

Sektor infrastruktur dan industri menyusul dengan pelemahan masing-masing sebesar 2,70 persen dan 2,27 persen.

Di sisi lain, hanya sektor kesehatan yang mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikan sebesar 1,15 persen.

Total transaksi harian mencapai 1,93 juta kali dengan volume perdagangan sebesar 57,24 miliar lembar saham.

Nilai transaksi keseluruhan tercatat mencapai Rp12,60 triliun, dengan 518 saham ditutup melemah dan 187 saham berhasil menguat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *