Jakarta – Nilai tukar mata uang rupiah mencatatkan pelemahan tipis pada perdagangan Selasa (25/8/2026) di tengah suasana libur nasional.
Data dari Bloomberg menunjukkan rupiah ditutup di level Rp 17.723 per dolar Amerika Serikat.
Angka tersebut mencerminkan koreksi sebesar 0,03 persen dibandingkan posisi penutupan pada Senin (24/8) yang berada di angka Rp 17.721 per dolar AS.
Kondisi ini menandai pelemahan rupiah selama dua hari perdagangan secara berturut-turut.
Tekanan terhadap mata uang domestik terjadi seiring dengan penguatan indeks dolar AS di pasar global.
Indeks yang mengukur performa dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia tercatat naik sebesar 0,1 persen ke posisi 99,07.
Kenaikan ini merupakan kelanjutan dari penguatan sebesar 0,16 persen pada sesi sebelumnya.
Tren positif tersebut sekaligus menjauhkan posisi dolar AS dari level terendah dalam tiga bulan terakhir.
Di sisi domestik, perhatian pelaku pasar tertuju pada kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) yang baru saja memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan.
BI menetapkan suku bunga acuan tetap berada pada level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur Agustus 2026.
Selain itu, bank sentral juga menjaga suku bunga Lending Facility di angka 6,50 persen dan Deposit Facility di posisi 4,75 persen.
Keputusan tersebut menjadi penahanan suku bunga untuk kedua kalinya secara beruntun.
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset mingguannya menyebutkan bahwa langkah tersebut mencerminkan sikap kehati-hatian otoritas moneter.
“Kebijakan ini menunjukkan pergeseran fokus BI menuju langkah moneter yang lebih terarah, dibandingkan kembali menaikkan suku bunga,” tulis riset tersebut.
Sebagai langkah stabilisasi, BI kini memperkuat insentif valuta asing serta menawarkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang kompetitif.
Upaya ini ditujukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus merangsang masuknya aliran modal asing ke pasar domestik.
BI juga tetap fokus pada kebijakan makroprudensial untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Hal ini dilakukan dengan memberikan insentif likuiditas guna memperbaiki transmisi kebijakan moneter dan mengurangi segmentasi likuiditas.
Selain itu, BI berupaya mendorong penyaluran kredit perbankan ke sektor-sektor prioritas yang produktif.
Dalam aspek inflasi, BI terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk menjaga stabilitas harga pangan.
Pengendalian harga pangan menjadi krusial di tengah risiko gangguan pasokan akibat fenomena cuaca El Niño.
Sementara itu, pasar valuta asing di kawasan Asia secara umum menunjukkan pergerakan yang terbatas sebagaimana dilaporkan oleh Reuters.
Baht Thailand tercatat melemah tipis ke level 32,74 per dolar AS, sementara peso Filipina cenderung bergerak datar.
Dinamika pasar regional diperkirakan akan dipengaruhi oleh kebijakan bank sentral masing-masing negara dalam waktu dekat.
Bank sentral Thailand diprediksi mempertahankan suku bunganya pada Rabu (26/8).
Di sisi lain, bank sentral Korea Selatan dan Filipina diestimasikan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Won Korea Selatan juga terpantau sedikit melemah dari level tertinggi dalam hampir setahun terakhir di posisi 1.378,9 per dolar AS.
Kinerja rupiah ke depan akan sangat bergantung pada dinamika dolar AS dan arah kebijakan bank sentral global.










