Jakarta – Penjualan instrumen investasi Sukuk Negara Ritel (SR) seri SR025 menunjukkan performa yang kontras antara dua tenor yang ditawarkan hingga Kamis (10/9/2026).
Data transaksi pada mitra distribusi menunjukkan bahwa minat investor terhadap tenor tiga tahun (T3) jauh melampaui tenor lima tahun (T5).
Hingga hari ini, SR025-T3 telah mencatatkan angka penjualan sebesar 84,2 persen dari total kuota yang tersedia yakni Rp 15 triliun.
Sebaliknya, SR025-T5 baru mencapai angka penjualan di kisaran 56,1 persen dari kuota yang ditetapkan sebesar Rp 5 triliun.
Kesenjangan capaian ini dinilai masih bersifat sementara karena masa penawaran masih menyisakan waktu bagi para investor.
Para pemodal besar diprediksi menjadi kunci penentu dalam mendongkrak volume penjualan SR025-T5 menjelang penutupan masa penawaran.
Potensi peningkatan ini didukung oleh kebijakan batas maksimal pemesanan yang cukup longgar bagi seri T5.
Pemerintah menetapkan batas maksimal pemesanan untuk SR025-T5 mencapai Rp 10 miliar per investor.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan batas pemesanan untuk seri T3 yang dipatok maksimal Rp 5 miliar per investor.
Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, menilai pola perilaku investor SBN ritel memang cenderung menumpuk di akhir periode.
“Kalau ada beberapa investor dengan ticket size besar masuk di hari-hari terakhir, angka penjualan bisa berubah cukup cepat,” ujar Josua, Kamis (10/9/2026).
Menurut pengamatannya, dinamika pembelian SBN ritel jarang terjadi secara merata di sepanjang rentang waktu penawaran.
Banyak investor memilih untuk menahan dana dan baru melakukan eksekusi pembelian saat mendekati tenggat waktu berakhir.
Josua memproyeksikan penjualan SR025-T3 melalui platform digital berpotensi menyentuh angka 90 persen hingga 100 persen saat penutupan nanti.
Sementara itu, untuk tenor lima tahun, ia memperkirakan tingkat penyerapan berada di kisaran 65 persen hingga 85 persen.
“Untuk T5 masih membutuhkan akselerasi yang cukup besar. Tapi kalau ada pembelian dengan ticket size besar, peluang penyerapan lebih tinggi tetap terbuka,” ucapnya.
Seluruh rangkaian masa penawaran SR025 dijadwalkan akan resmi berakhir pada 16 September 2026 mendatang.
Tepatnya, proses pemesanan akan ditutup pada pukul 12.00 WIB sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Sisa waktu beberapa hari ke depan menjadi momentum krusial bagi pemerintah dan mitra distribusi untuk menarik partisipasi investor.
Kehadiran transaksi jumbo di detik-detik terakhir akan menjadi penentu seberapa jauh SR025-T5 mampu mengejar ketertinggalan volumenya.
Hingga saat ini, pasar obligasi Indonesia dinilai masih menawarkan imbal hasil yang cukup menarik bagi para pemodal di tengah tekanan pasar ASEAN.










