Jakarta – Bursa saham Amerika Serikat, Wall Street, kembali ditutup di zona merah pada perdagangan Selasa (29/9) waktu setempat.
Tekanan jual melanda pasar ekuitas menyusul lonjakan signifikan pada imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat, Treasury.
Indeks Dow Jones Industrial Average mencatatkan penurunan sebesar 131,59 poin atau 0,26% dan berakhir di level 51.349,92.
Indeks S&P 500 juga mengalami pelemahan tipis sebesar 0,16% ke posisi 7.670,84.
Nasdaq Composite turut terpapar sentimen negatif dengan koreksi 0,09% yang membawa indeks tersebut ke angka 26.797,54.
Sektor keuangan menjadi salah satu penekan utama indeks pada perdagangan tersebut.
Harga saham beberapa institusi perbankan besar seperti JPMorgan Chase, Morgan Stanley, dan Bank of America kompak ditutup melemah.
Kondisi ini turut menyeret turun kinerja ETF State Street Financial Select Sector SPDR (XLF) ke level yang lebih rendah.
Pemicu utama gejolak pasar ini adalah kenaikan drastis pada yield obligasi Treasury Amerika Serikat.
Yield Treasury tenor 30 tahun dilaporkan menembus angka 5,6%.
Level tersebut merupakan posisi tertinggi yang pernah dicapai sejak Juni 2002 silam.
Sementara itu, yield Treasury tenor 10 tahun yang menjadi acuan utama pasar modal juga sempat menyentuh level 5,29% selama sesi perdagangan.
Managing director sekaligus portfolio manager di Aristotle Pacific Capital, Jeff Klingelhofer, memberikan pandangannya terkait kondisi pasar saat ini.
“Pasar meyakini inflasi akan turun dan hal itu akan terjadi melalui penghancuran permintaan,” ujarnya dikutip dari CNBC, Rabu (30/9).
Klingelhofer menambahkan bahwa mekanisme tersebut menjadi alasan utama di balik penurunan harga saham dan kenaikan suku bunga.
Pasar saat ini tengah bergeser ke arah keyakinan bahwa Ketua The Fed, Kevin Warsh, memegang kendali atas solusi inflasi tersebut.
Selain yield obligasi, kenaikan harga minyak mentah global juga memberikan beban tambahan bagi pasar saham.
Sentimen negatif ini memperpanjang tren koreksi yang sudah terjadi sejak awal pekan ini.
Pada sesi perdagangan Senin, Dow Jones bahkan sempat merosot lebih dari 300 poin.
S&P 500 dan Nasdaq Composite pada saat yang sama masing-masing mencatatkan penurunan sebesar 0,8% dan 0,9%.
Pergerakan bursa pada penutupan Selasa ini memberikan gambaran beragam bagi kinerja pasar sepanjang September dan kuartal ketiga 2026.
Sepanjang September, indeks S&P 500 telah terkoreksi 0,2% dan Dow Jones turun 3,5%.
Penurunan Dow Jones ini sekaligus mengakhiri tren positif yang sebelumnya bertahan selama lima bulan berturut-turut.
Sebaliknya, Nasdaq Composite masih mampu mencatat kenaikan lebih dari 1% sepanjang bulan berjalan.
Untuk performa kuartal ketiga 2026, S&P 500 dan Nasdaq masing-masing mencatatkan apresiasi sekitar 2%.
Di sisi lain, Dow Jones justru mencatatkan performa negatif dengan penurunan hampir 2% sepanjang periode kuartal tersebut.










