Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan signifikan sepanjang pekan ini hingga penutupan perdagangan pada Jumat (25/9/2026).

Mata uang Garuda tercatat melemah 0,82% ke posisi Rp 17.903 per dolar AS dibandingkan pekan sebelumnya.

Data pasar menunjukkan pelemahan serupa terjadi pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR).

Posisi JISDOR berada di angka Rp 17.917 per dolar AS pada akhir pekan, terkoreksi 0,97% dari level Rp 17.745 per dolar AS pada Jumat (18/9/2026).

Sentimen negatif yang menekan rupiah didominasi oleh faktor eksternal yang kompleks.

Pasar bereaksi terhadap kombinasi ketegangan geopolitik, lonjakan harga minyak, dan arah kebijakan moneter bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).

Pengamat uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyoroti risiko inflasi global akibat eskalasi konflik antara Iran dan AS.

“Kenaikan harga minyak menjadi salah satu perhatian karena dapat meningkatkan tekanan inflasi global,” ungkap Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (25/9/2026).

Situasi ini memicu kekhawatiran pelaku pasar bahwa suku bunga tinggi akan dipertahankan dalam jangka waktu lebih lama.

Selain itu, pernyataan sejumlah pejabat bank sentral AS mengenai potensi kenaikan suku bunga sebelum tahun 2026 berakhir turut memperkuat posisi dolar AS.

Kondisi ekonomi AS yang tergolong tangguh memberikan dorongan tambahan bagi penguatan mata uang Paman Sam tersebut.

Data ekonomi terbaru menunjukkan PMI komposit AS pada September mencapai level 58,4.

Angka klaim pengangguran awal juga dilaporkan turun ke posisi 197.000.

“Data ekonomi AS yang masih kuat ikut memperkuat ekspektasi terhadap kebijakan The Fed,” jelas Ibrahim, Jumat (25/9/2026).

Dia menambahkan bahwa pasar akan terus mencermati perkembangan inflasi serta arah kebijakan suku bunga di masa mendatang.

Menanggapi gejolak tersebut, pemerintah Indonesia bersama Bank Indonesia (BI) menyatakan terus melakukan koordinasi.

Sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.

Upaya menjaga arus modal masuk dan penguatan sektor eksternal menjadi strategi utama otoritas dalam negeri.

Memasuki pekan perdagangan berikutnya, Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.800 hingga Rp 18.100 per dolar AS.

Pergerakan nilai tukar domestik diperkirakan masih akan sangat bergantung pada dinamika harga minyak dunia dan perkembangan geopolitik global.

Ketergantungan terhadap arah kebijakan The Fed diprediksi tetap menjadi penentu utama volatilitas pasar valuta asing di Indonesia dalam jangka pendek.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *