Jakarta – Emiten di bawah naungan Grup Bakrie mencatatkan aktivitas korporasi yang intensif sepanjang 2026 dengan menggelar aksi penambahan modal melalui hak memesan efek terlebih dahulu atau rights issue sebanyak empat kali.

Total potensi perolehan dana segar dari rangkaian aksi korporasi tersebut diproyeksikan mencapai Rp 11,04 triliun.

Sejumlah entitas yang terlibat dalam aksi ini meliputi PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE), serta PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR).

Dana yang dihimpun perusahaan dialokasikan untuk berbagai kebutuhan strategis, mulai dari penguatan struktur permodalan, pelunasan utang, pemenuhan modal kerja, hingga pendanaan ekspansi bisnis.

Frekuensi aksi korporasi yang cukup tinggi ini memicu perdebatan di kalangan investor terkait potensi risiko atau tanda bahaya (red flag) bagi kesehatan finansial perusahaan.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa tingginya frekuensi rights issue tidak serta-merta mengindikasikan perusahaan mengalami masalah fundamental.

“Frekuensi rights issue perlu dicermati apabila perusahaan terus menghimpun dana baru tetapi pertumbuhan pendapatan, laba, dan arus kasnya tidak meningkat secara sepadan,” ujar Nafan dikutip dari Katadata, Rabu (30/9/2026).

Nafan menekankan pentingnya bagi investor untuk membedah tujuan penggunaan dana secara individual, mengingat setiap emiten memiliki kebutuhan yang berbeda.

Sebagai contoh, BNBR fokus pada perbaikan struktur keuangan, sementara ENRG memprioritaskan ekspansi sektor migas, dan VKTR mengarahkan dana untuk pengembangan ekosistem kendaraan listrik.

Menurut Nafan, selama modal baru tersebut mampu menghasilkan imbal hasil (return) yang lebih tinggi dibandingkan biaya modal, maka aksi tersebut dapat memberikan nilai tambah bagi pemegang saham.

Senada dengan hal tersebut, Investment Advisor Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis T, menegaskan bahwa investor harus lebih jeli melihat efektivitas alokasi modal perusahaan.

“Kalau dana digunakan untuk ekspansi produktif atau akuisisi aset yang menghasilkan pendapatan, tentu berbeda dengan rights issue yang berulang hanya untuk menutup kebutuhan likuiditas atau memperbaiki neraca,” kata Alrich sebagaimana dikutip dari Katadata, Rabu (30/9/2026).

Alrich mengingatkan agar pelaku pasar memperhatikan potensi dilusi saham serta rekam jejak manajemen dalam mengelola dana dari aksi korporasi sebelumnya.

Selain itu, investor disarankan untuk memantau dampak aksi korporasi terhadap laba per saham (earnings per share) dan return on equity (ROE) perusahaan pasca-pelaksanaan.

Rincian aksi korporasi mencatat BNBR menerbitkan 89,91 miliar saham baru dengan target dana Rp 4,76 triliun, sementara ENRG membidik Rp 4,11 triliun melalui penerbitan 13,28 miliar saham baru.

JGLE berencana menghimpun dana sebesar Rp 413,94 miliar, diikuti oleh VKTR yang menargetkan dana hingga Rp 3 triliun untuk mendukung program e-Mobility as a Service.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *