Singapura – Sultan Malaysia, Sultan Ibrahim Iskandar, resmi menjadi pemegang saham di perusahaan pertambangan Southern Alliance Mining Ltd.
Langkah investasi ini melibatkan pembelian porsi kepemilikan sebesar 2,25 persen di perusahaan yang melantai di bursa Singapura tersebut.
Nilai transaksi akuisisi saham ini mencapai SGD 6,1 juta atau setara dengan USD 4,8 juta.
Kepemilikan saham diperoleh sang Sultan dari Direktur Pelaksana Southern Alliance, Pek Kok Sam.
Harga perolehan ditetapkan pada angka SGD 0,425 per lembar saham, sebagaimana dikutip dari pernyataan resmi perusahaan.
Angka tersebut merepresentasikan premi sekitar 12 persen lebih tinggi dibandingkan harga penutupan perdagangan pada Senin lalu.
Pasar merespons positif aksi korporasi ini dengan lonjakan harga saham Southern Alliance sebesar 10,5 persen menjadi SGD 0,42 pada Selasa pagi.
Investasi ini menempatkan Sultan Ibrahim dalam posisi strategis seiring ambisi Southern Alliance berekspansi ke sektor logam tanah jarang.
Sektor logam tanah jarang atau rare earth element saat ini menjadi komoditas vital dalam industri teknologi global.
Southern Alliance sendiri telah menunjukkan langkah agresif dalam pengembangan bisnis di sektor mineral tersebut.
Pada September 2025, perusahaan tersebut berhasil mengakuisisi 40 persen saham MCRE Resources.
Langkah tersebut mencakup kemitraan strategis dengan China Rare Earth Corp. untuk operasi pertambangan di negara bagian Perak.
Selain itu, Southern Alliance tengah memproses akuisisi Paramount Synergy Sdn Bhd.
Akuisisi ini ditujukan untuk memuluskan proyek mineral langka di negara bagian Johor.
Johor merupakan wilayah asal Sultan Ibrahim yang memiliki signifikansi strategis bagi operasional perusahaan di masa depan.
Perusahaan ini telah lama mengoperasikan tambang andalannya, Chaah Mine, yang berlokasi di wilayah selatan Malaysia tersebut.
Pihak Southern Alliance menegaskan bahwa transaksi ini tidak akan memengaruhi manajemen maupun arah strategis perusahaan.
Pek Kok Sam tetap memegang kendali penuh sebagai pemegang saham pengendali dengan porsi 55,74 persen.
Pernyataan perusahaan menyebutkan bahwa Southern Alliance bukan merupakan pihak dalam transaksi jual-beli saham ini dan tidak menerima keuntungan finansial dari perpindahan tangan tersebut.
Sultan Ibrahim Iskandar sendiri dikenal memiliki portofolio bisnis yang terdiversifikasi luas.
Kepentingan bisnisnya mencakup sektor real estate, telekomunikasi, hingga infrastruktur nasional.
Latar belakang kepemimpinannya mencakup masa jabatan lima tahun sebagai raja Malaysia dalam sistem monarki bergilir.
Hingga laporan ini dirilis, perwakilan dari istana nasional Malaysia belum memberikan tanggapan resmi terkait investasi tersebut.
Langkah ini mempertegas posisi Malaysia dalam peta industri logam tanah jarang global.
Pemerintah Malaysia saat ini memang tengah berupaya meningkatkan daya saing di sektor pengolahan mineral strategis.
Sejumlah pemain internasional, termasuk perusahaan asal Australia dan Prancis, telah mulai menjajaki potensi di negara tersebut.
Kehadiran investor domestik berskala besar seperti Sultan Ibrahim diyakini akan memperkuat ekosistem pertambangan lokal.










