Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bergerak variatif pada perdagangan Rabu (14/10/2026) di tengah bayang-bayang ketidakpastian geopolitik global dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Sentimen utama pelaku pasar saat ini tertuju pada rilis data inflasi atau Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat untuk periode September 2026.
Konsensus pasar memperkirakan inflasi tahunan di Negeri Paman Sam akan menyentuh angka 3,6%.
Angka tersebut mencatatkan kenaikan jika dibandingkan dengan realisasi pada Agustus 2026 yang berada di level 3,4%.
Potensi inflasi yang melampaui ekspektasi ini dinilai dapat memperkuat posisi dolar Amerika Serikat.
Kondisi tersebut secara langsung memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan arus modal asing yang masuk ke pasar saham domestik.
Selain faktor inflasi, kebijakan hawkish dari bank sentral Amerika Serikat, The Fed, turut menjadi perhatian utama investor.
Dinamika geopolitik global serta sentimen dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) juga masih membayangi pergerakan pasar.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, mencatat IHSG sempat ditutup melemah 0,17% ke level 5.926 pada perdagangan Selasa (13/10/2026).
Meskipun tertekan, indeks sempat menunjukkan perlawanan setelah aksi jual yang cukup signifikan pada sesi sebelumnya.
Dukungan teknis juga datang dari aksi beli bersih investor asing sebesar Rp5,8 miliar di pasar reguler.
Secara teknikal, IHSG memiliki peluang untuk mengalami technical rebound hari ini.
Peluang tersebut muncul setelah indeks membentuk pola hammer di area support pada kisaran 5.850 hingga 5.800.
Namun, investor perlu tetap waspada karena indikator moving average convergence divergence (MACD) masih menunjukkan momentum bearish.
“Apabila IHSG menembus level support tersebut, indeks berisiko melanjutkan pelemahan menuju 5.750,” ujar Reza dalam publikasi risetnya, Rabu (14/10/2026).
Reza menambahkan bahwa resistance terdekat bagi indeks saat ini berada pada rentang 6.000 hingga 6.020.
Konfirmasi penguatan lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan tren pembalikan arah tersebut.
Menyikapi kondisi pasar tersebut, BRI Danareksa Sekuritas mengeluarkan sejumlah rekomendasi saham untuk perdagangan hari ini.
Untuk strategi swing trade, investor disarankan melakukan pembelian pada saham PTBA dengan target harga di rentang Rp3.320 hingga Rp3.420.
Saham PTBA disarankan untuk memasang stop loss apabila harga bergerak di bawah level Rp3.100.
Rekomendasi beli juga diberikan untuk saham EMAS dengan target harga Rp8.300 hingga Rp8.600 serta stop loss di bawah Rp7.700.
Sementara untuk strategi day trade, investor dapat mempertimbangkan pembelian saham ERAA.
Saham ERAA dipatok dengan target harga Rp655 hingga Rp670 dengan stop loss jika menyentuh level di bawah Rp600.
Di sisi lain, untuk saham FUTR, analis memberikan rekomendasi jual dengan target harga di rentang Rp202 hingga Rp158.










