Jakarta – PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) secara resmi mengumumkan rencana penambahan modal melalui skema private placement atau penambahan modal tanpa memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD).
Aksi korporasi ini menargetkan penerbitan saham baru sebanyak-banyaknya 460,53 juta lembar.
Jumlah saham tersebut setara dengan maksimal 10% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh perusahaan saat ini.
Berdasarkan keterbukaan informasi yang dirilis pada Rabu (14/10/2026), perusahaan menetapkan nilai nominal saham baru sebesar Rp 100 per saham.
Manajemen perusahaan menyatakan bahwa rencana strategis ini bertujuan untuk memperkuat struktur permodalan sekaligus mendukung ekspansi pengembangan usaha.
Seluruh dana hasil penerbitan saham baru nantinya akan dialokasikan sebagai modal kerja operasional perusahaan.
“Seluruh dana yang diperoleh nantinya akan digunakan sebagai modal kerja, terutama untuk membeli bahan baku emas dalam bentuk butiran atau batangan dari pihak yang tidak terafiliasi dengan perusahaan,” tulis manajemen dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (14/10/2026).
Perusahaan menegaskan bahwa pasokan bahan baku emas wajib memenuhi standar regulasi pemerintah.
Pemasok bahan baku harus terdaftar dalam platform digital MinerbaOne yang dikelola oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Hingga saat ini, pihak perusahaan belum menentukan siapa calon investor definitif yang akan menyerap saham baru tersebut.
Penetapan harga pelaksanaan nantinya akan mengikuti ketentuan yang berlaku di Bursa Efek Indonesia dengan mempertimbangkan kepentingan pemegang saham minoritas.
Persetujuan atas rencana ini akan dimintakan kepada para pemegang saham independen dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Jumat (16/10/2026).
Secara finansial, perusahaan memproyeksikan aksi korporasi ini akan memperbaiki beberapa rasio keuangan utama.
Rasio lancar diprediksi meningkat dari 1,69 kali menjadi 1,86 kali pasca-penerbitan saham.
Selain itu, rasio total liabilitas terhadap ekuitas diperkirakan turun dari 2,03 kali menjadi 1,59 kali.
Rasio total liabilitas terhadap total aset juga diproyeksikan mengalami penurunan dari 0,67 kali menjadi 0,61 kali.
Di sisi lain, terdapat proyeksi penurunan pada rasio profitabilitas akibat peningkatan jumlah aset dan ekuitas.
Rasio laba tahun berjalan terhadap total aset diperkirakan menyusut dari 6,17% menjadi 5,65%.
Sementara itu, rasio laba tahun berjalan terhadap ekuitas diproyeksikan turun dari 18,71% menjadi 14,63%.
Manajemen menjelaskan bahwa penurunan rasio profitabilitas tersebut terjadi karena laba tahun berjalan tidak berubah secara langsung saat aset dan ekuitas meningkat.
Jika seluruh rencana ini terealisasi, total saham beredar HRTA akan bertambah dari 4,61 miliar menjadi maksimal 5,07 miliar saham.
Pemegang saham yang tidak berpartisipasi dalam aksi ini berpotensi mengalami dilusi kepemilikan maksimal sebesar 9,09%.
Saham baru yang diterbitkan akan memiliki hak yang setara dengan saham lama, termasuk hak dividen dan hak suara dalam RUPSLB.










