Jakarta – Rencana penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dijadwalkan pada tahun 2027 kini menjadi sorotan utama pasar modal.

Langkah strategis ini dilakukan untuk memperluas akses pendanaan bagi perusahaan pelat merah melalui keterlibatan investor publik.

Chief Executive Officer Danantara Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani, menyatakan bahwa pihaknya saat ini sedang melakukan pemetaan mendalam terhadap perusahaan yang memiliki potensi untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun depan.

“Pihaknya tengah mengidentifikasi dan mengkaji perusahaan yang berpotensi melantai di bursa pada tahun depan,” ujar Rosan dalam keterangan tertulisnya, Rabu (7/10/2026).

Sektor-sektor yang saat ini tengah berada dalam tahap pengkajian intensif meliputi sektor finansial, infrastruktur, hingga pertambangan.

Danantara menargetkan pengumuman resmi mengenai daftar calon emiten tersebut dapat dirampungkan sebelum pergantian tahun 2026.

Aksi korporasi ini tidak hanya bertujuan untuk menghimpun modal segar, tetapi juga menuntut perusahaan untuk meningkatkan standar keterbukaan informasi dan kepatuhan tata kelola perusahaan.

Sejarah mencatat bahwa sejumlah BUMN dan anak usahanya telah berhasil menghimpun dana jumbo melalui skema IPO di BEI selama dua dekade terakhir.

PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) hingga saat ini memegang rekor sebagai BUMN dengan nilai IPO terbesar, yakni mencapai Rp18,34 triliun saat resmi melantai pada 22 November 2021.

Di posisi kedua, terdapat PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) yang sukses menghimpun dana sebesar Rp9,06 triliun pada 24 Februari 2023.

Selanjutnya, peringkat ketiga ditempati oleh PT Waskita Beton Precast Tbk. (WSBP) dengan perolehan nilai IPO sebesar Rp5,17 triliun pada tahun 2016.

Maskapai penerbangan nasional, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA), berada di posisi keempat dengan nilai IPO mencapai Rp4,75 triliun pada tahun 2011.

Melengkapi posisi lima besar, PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR) mencatatkan nilai IPO sebesar Rp3,47 triliun pada tahun 2007.

Daftar 10 besar emiten BUMN dan anak usahanya juga mencakup perbankan raksasa seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dengan nilai Rp3,33 triliun dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) sebesar Rp2,70 triliun.

Selain itu, terdapat PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) dengan Rp2,68 triliun, PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) sebesar Rp1,94 triliun, serta PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) dengan nilai Rp1,91 triliun.

Karakteristik kepemilikan emiten-emiten tersebut cukup beragam, dengan beberapa di antaranya merupakan BUMN induk, sementara yang lainnya merupakan anak usaha dari kelompok bisnis BUMN.

Realisasi IPO pada tahun 2027 mendatang diprediksi akan sangat bergantung pada dinamika kondisi pasar modal serta strategi penentuan harga saham yang akan ditawarkan kepada publik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *