Jakarta – Harga emas di pasar spot terpantau masih berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu, 2 September 2026.
Data dari Trading Economics menunjukkan harga logam mulia tersebut berada di posisi US$ 4.309 per ons troi.
Angka ini merepresentasikan pelemahan harian sebesar 0,43 persen.
Secara kumulatif dalam sepekan terakhir, harga emas telah terkoreksi sebesar 6,22 persen.
Analis dari Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menilai pergerakan tersebut sebagai fase koreksi teknikal yang wajar.
Dalam riset yang diterima pada Rabu (2/9/2026), ia menyatakan bahwa emas saat ini sedang membentuk tren sekunder setelah sempat mengalami kenaikan signifikan sebelumnya.
Geraldo memproyeksikan harga emas berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area support di kisaran US$ 4.237 hingga US$ 4.204 per ons troi.
“Selama area support tersebut mampu menahan tekanan jual, peluang emas untuk kembali mengikuti tren utamanya masih terbuka,” ujarnya dikutip dari riset Dupoin Futures, Rabu (2/9/2026).
Pihak Dupoin Futures menekankan pentingnya bagi para pelaku pasar untuk membedakan antara fase koreksi dan perubahan tren jangka panjang.
Penurunan harga yang terjadi saat ini belum mengindikasikan berakhirnya tren utama emas secara fundamental.
Kondisi tersebut baru akan berubah jika level support krusial yang telah ditetapkan berhasil ditembus secara signifikan oleh pasar.
Selain faktor teknikal, dinamika geopolitik global menjadi pemicu utama fluktuasi harga emas saat ini.
Eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di sekitar Selat Hormuz telah memicu lonjakan harga minyak mentah dunia.
Harga minyak dilaporkan melonjak lebih dari US$ 4 per barel, yang langsung memicu kekhawatiran baru mengenai risiko inflasi global.
Dupoin Futures mencatat bahwa kenaikan biaya energi dapat memaksa investor untuk meninjau kembali ekspektasi kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Fed.
“Jika tekanan inflasi semakin tinggi, peluang kebijakan moneter yang lebih ketat dapat kembali diperhitungkan oleh investor,” jelasnya dikutip dari riset Dupoin Futures, Rabu (2/9/2026).
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh pergerakan yield obligasi Treasury AS yang cenderung meningkat.
Kenaikan imbal hasil obligasi sering kali menekan harga emas karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil langsung kepada pemiliknya.
Di sisi lain, penguatan dolar AS turut menjadi faktor penekan bagi aset komoditas emas di pasar global.
Para pelaku pasar kini tengah menantikan rilis data tenaga kerja Amerika Serikat yang akan menjadi indikator kunci kebijakan suku bunga The Fed.
Data ketenagakerjaan tersebut diprediksi akan memberikan kejelasan mengenai arah kebijakan moneter ke depan.
Hingga saat ini, volatilitas harga diperkirakan masih akan membayangi emas di pasar spot dalam jangka pendek.
Risiko geopolitik tetap menjadi variabel yang berpotensi menahan laju tekanan jual lebih dalam.
Investor disarankan untuk terus memantau level support sebagai acuan utama dalam menentukan strategi perdagangan selanjutnya.










