Lampung – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk terus mengintensifkan upaya peningkatan literasi keuangan bagi generasi muda di tanah air.
Langkah strategis ini dilakukan untuk membekali anak muda dengan kecakapan dalam mengelola pendapatan, membangun aset, serta menyusun perencanaan finansial masa depan yang lebih matang.
Direktur Finance & Strategy BRI, Achmad Royadi, menyoroti kompleksitas tantangan ekonomi yang dihadapi generasi muda saat ini.
Menurutnya, kemudahan transaksi digital dan dinamika gaya hidup yang serba cepat menuntut kedewasaan dalam pengambilan keputusan finansial.
“BRI percaya bahwa literasi keuangan sebaiknya diberikan bahkan sebelum seseorang memiliki penghasilan sendiri. Sehingga ketika mulai bekerja dan memperoleh penghasilan, mereka sudah memahami bagaimana mengalokasikannya,” ujar Achmad sebagaimana dikutip dari keterangan resmi yang dirilis, Senin (7/9).
Ia menekankan pentingnya mengubah paradigma dalam mengelola uang.
Generasi muda disarankan untuk menerapkan prinsip menyisihkan pendapatan di awal waktu, bukan mengandalkan sisa uang di akhir bulan.
Metode ini dianggap krusial untuk melatih disiplin dalam memprioritaskan kebutuhan di tengah godaan konsumsi yang tinggi.
Terdapat tiga pilar utama yang menjadi pondasi penting bagi stabilitas keuangan masa depan generasi muda.
Pilar tersebut mencakup financial discipline, financial knowledge, serta financial growth mindset.
Financial discipline berkaitan erat dengan kemampuan individu dalam mengatur pengeluaran serta konsistensi menyediakan dana darurat.
Sementara itu, financial knowledge menuntut pemahaman mendalam mengenai produk tabungan, instrumen investasi, proteksi, hingga risiko kredit.
Terakhir, financial growth mindset mendorong anak muda untuk berorientasi jangka panjang dalam membangun aset, alih-alih hanya fokus pada konsumsi harian.
“Semakin awal kita mulai membangun kebiasaan menabung dan berinvestasi, semakin panjang pula waktu yang kita miliki untuk mengembangkan aset dan memperoleh manfaat dari efek compounding. Karena itu, membangun kebiasaan finansial yang baik sejak dini menjadi penting untuk mempersiapkan masa depan,” jelas Achmad.
Guna mendukung implementasi literasi tersebut, BRI mengoptimalkan ekosistem digital melalui aplikasi BRImo.
Platform ini dirancang untuk menyatukan berbagai kebutuhan finansial dalam satu genggaman agar pengguna lebih mudah mengelola keuangan mereka secara praktis.
Achmad mengingatkan agar teknologi digital tidak hanya digunakan sebagai alat untuk mempermudah pengeluaran atau spending.
Teknologi seharusnya difungsikan untuk membantu masyarakat lebih disiplin dalam menabung dan berinvestasi secara konsisten.
Seiring dengan meningkatnya adopsi layanan perbankan digital, kewaspadaan terhadap ancaman keamanan siber menjadi hal yang tidak kalah penting.
Bank pelat merah ini terus mengedukasi nasabah untuk menerapkan prinsip “Stop, Check, Verify” guna menghindari modus penipuan keuangan atau financial scam.
Prinsip Stop berarti nasabah tidak boleh gegabah mengambil tindakan saat merasa panik atau tergiur oleh tawaran mencurigakan.
Check dilakukan dengan memverifikasi data transaksi melalui aplikasi perbankan resmi.
Terakhir, Verify mengharuskan nasabah melakukan konfirmasi langsung ke kanal resmi bank apabila muncul keraguan terkait suatu transaksi atau permintaan data.
“Dalam menghadapi financial scam, semakin kita didesak untuk cepat mengambil keputusan, justru semakin kita perlu berhati-hati. Pengelolaan keuangan yang baik harus berjalan beriringan dengan pemahaman terhadap risiko dan keamanan transaksi,” pungkas Achmad.










