Jakarta – Fenomena erupsi beruntun yang terjadi pada empat gunung api di Indonesia pada Minggu (6/9) kembali menarik perhatian publik. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat aktivitas vulkanik terjadi secara hampir bersamaan di Gunung Anak Krakatau, Gunung Ibu, Gunung Semeru, dan Gunung Ili Lewotolok.
Aktivitas vulkanik diawali oleh Gunung Ibu di Maluku Utara yang meletus pada pukul 04.55 WIT dengan kolom abu mencapai 400 meter. Selang beberapa waktu, Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur menyusul pada pukul 06.11 WITA dengan ketinggian kolom abu yang sama.
Memasuki pagi hari, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda tercatat erupsi pada pukul 07.10 WIB. Aktivitas ini merupakan kelanjutan dari rangkaian erupsi menerus yang sempat berhenti pada dini hari sebelumnya.
Terakhir, Gunung Semeru di Jawa Timur menunjukkan aktivitas paling signifikan dengan kolom abu mencapai 1.000 meter di atas puncak atau 4.676 meter di atas permukaan laut pada pukul 07.51 WIB.
Mantan Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG sekaligus anggota IABI, Daryono Perwira Sakti, menegaskan bahwa peristiwa ini tidak dipicu oleh keterhubungan sistem magma bawah tanah. Menurutnya, tidak ada mekanisme “jalur pipa” yang menghubungkan dapur magma keempat gunung tersebut secara geologis.
“Erupsi yang terjadi bersamaan ini murni dikarenakan masing-masing sistem vulkanik memang telah berada pada tahap kritis akumulasi tekanan fluida dan magma di dalamnya,” ujar Daryono dikutip dari unggahan di X.com, Minggu (6/9).
Daryono menjelaskan bahwa posisi geografis Indonesia di zona konvergensi kompleks antara Lempeng Indo-Australia, Pasifik, dan Filipina memang membuat aktivitas vulkanik menjadi hal yang lumrah. Perbedaan tinggi kolom abu dan intensitas erupsi dipengaruhi oleh viskositas magma, kandungan gas vulkanik, serta kondisi atmosfer.
Senada dengan hal tersebut, Kepala PVMBG Badan Geologi, Rita Susilawati, menekankan bahwa erupsi serentak adalah dinamika independen. Dalam keterangan pers di Bandung, Rabu (3/9), ia menyatakan bahwa Indonesia memiliki 127 gunung api aktif di kawasan Cincin Api Pasifik.
“Dapurnya itu masing-masing, dapurnya itu sendiri-sendiri, begitu ya, dan proses menuju erupsi antara satu gunung dengan gunung yang lainnya itu juga berbeda-beda,” ungkap Rita dikutip dari Pernyataan Resmi PVMBG Badan Geologi.
Pihak PVMBG juga menepis kekhawatiran mengenai kaitan langsung antara gempa tektonik dengan erupsi gunung api. Gempa tektonik tidak secara otomatis memicu letusan kecuali terdapat data pendukung internal gunung, seperti deformasi tubuh gunung atau perubahan suhu ekstrem.
Terkait sebaran abu vulkanik yang sempat terdeteksi hingga ke wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Banten, dan Lampung akibat erupsi Anak Krakatau, Daryono menjelaskan hal tersebut dipengaruhi oleh sirkulasi angin regional. Material vulkanik yang terlontar ke lapisan troposfer akan terbawa arah angin, sehingga jangkauannya tidak hanya bergantung pada ketinggian kolom erupsi semata.
Saat ini, status Gunung Anak Krakatau masih berada di Level III (Siaga). Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti rekomendasi zona bahaya yang telah ditetapkan oleh otoritas terkait untuk menghindari risiko dari material vulkanik maupun ancaman lahar hujan.










