New York – Bursa saham Amerika Serikat membuka perdagangan Selasa (8/9/2026) dengan pergerakan yang bervariasi di tengah meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap lonjakan harga energi dunia.
Indeks Dow Jones Industrial Average terpantau melemah 303,8 poin atau 0,57% ke level 53.110,45.
Indeks S&P 500 juga mencatatkan koreksi tipis sebesar 0,01% ke posisi 7.717,81.
Berbeda dengan dua indeks utama lainnya, Nasdaq Composite justru mampu menguat 0,08% ke level 26.528,571.
Sentimen utama yang menekan pasar adalah eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak mentah Brent hingga 1,64% ke level US$98,59 per barel.
Harga tersebut tercatat sebagai level tertinggi sejak 24 Juli 2026 akibat meningkatnya ketegangan militer di kawasan tersebut.
Reuters dalam laporannya menyebutkan bahwa kenaikan harga minyak ini memicu kekhawatiran baru mengenai potensi inflasi global yang berkepanjangan.
“Reli harga minyak membuat gambaran inflasi menjadi semakin keruh,” ujar Senior Financial Market Analyst di Capital.com, Kyle Rodda.
Ia menambahkan bahwa aktivitas militer saat ini mempertahankan premi risiko yang signifikan karena adanya ancaman gangguan pasokan energi yang lebih dalam.
Di sisi lain, investor kini menantikan rilis data ekonomi krusial, yakni Producer Price Index (PPI) pada Kamis dan Consumer Price Index (CPI) pada Jumat mendatang.
Data tersebut dianggap sangat krusial untuk menentukan arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) ke depan.
Berdasarkan data CME FedWatch, pelaku pasar saat ini memproyeksikan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada bulan ini mencapai 60,6%.
Ketidakpastian kebijakan moneter juga dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan baru di bank sentral AS.
“Ini masih menjadi sesuatu yang sulit diprediksi. Warsh tidak semudah itu dibaca dibandingkan pendahulunya, Jerome Powell,” ungkap Head Trader U.S. Global Investors, Michael Matousek.
Dari sektor emiten, saham-saham energi mencatatkan kinerja positif seiring lonjakan harga minyak mentah.
Saham Marathon Petroleum tercatat naik 1,78%, sementara Occidental Petroleum menguat 2,02%.
Sektor teknologi semikonduktor juga menunjukkan ketahanan, dengan saham Intel melonjak 4,54% dan Nvidia naik 0,51% di tengah optimisme pasar terhadap kecerdasan buatan.
Sebaliknya, saham-saham yang berkaitan dengan aset kripto mengalami tekanan jual setelah harga Bitcoin turun dari level psikologis US$80.000.
Coinbase terkoreksi 1,57% dan Strategy turun 2,92% pada awal perdagangan hari ini.
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun sebesar 0,42 basis poin menjadi 4,7882% juga turut membebani pergerakan harga saham secara umum.
Kondisi tersebut membuat aset berisiko menjadi kurang menarik dibandingkan instrumen Treasury yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi dengan profil risiko lebih terukur bagi para investor.










