Palangkaraya – Sebanyak 21 individu orangutan di kawasan konservasi Mawas, Kalimantan Tengah, saat ini tengah menjalani perawatan medis intensif akibat mengalami gangguan pernapasan.
Kondisi kesehatan primata tersebut menurun drastis setelah terpapar asap pekat dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda habitat mereka.
Data resmi yang dirilis oleh Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) pada Rabu (9/9) menyebutkan bahwa sekitar 49,5 hektare kawasan konservasi Mawas telah terdampak langsung oleh kobaran api.
Pihak yayasan menegaskan bahwa tim medis mereka terus berupaya memberikan penanganan terbaik agar satwa-satwa tersebut dapat segera pulih.
Di sisi lain, Yayasan BOS memastikan bahwa wilayah konservasi lain seperti Nyaru Menteng, Samboja Lestari, Kehje Sewen, Bukit Batikap, serta Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya masih terbebas dari ancaman langsung karhutla.
Untuk mengantisipasi meluasnya dampak kebakaran, Yayasan BOS menyatakan bahwa Tim Tanggap Kebakaran kini bersiaga penuh di lapangan.
“Tim Tanggap Kebakaran Yayasan BOS tetap siaga, memantau titik panas, melakukan patroli di area berisiko tinggi, dan memastikan tim serta peralatan pemadam siap digunakan,” tulis mereka dalam pernyataan resmi tersebut.
Ancaman karhutla terhadap populasi orangutan di Kalimantan memang mencapai titik yang mengkhawatirkan dalam beberapa pekan terakhir.
Sebelumnya, pada akhir Agustus lalu, seekor orangutan jantan dewasa bernama Sempurna dilaporkan tewas setelah ditemukan dalam kondisi lemas di perkebunan kelapa sawit di Ketapang, Kalimantan Barat.
Berdasarkan laporan Reuters, paparan asap karhutla diduga kuat memicu kegagalan fungsi paru-paru dan hipoksia atau kondisi kekurangan oksigen pada tubuh satwa tersebut.
Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI) tercatat telah mengevakuasi tujuh individu orangutan, termasuk Sempurna, akibat terdesak oleh kebakaran di area sekitar.
Selain itu, upaya penyelamatan juga dilakukan oleh BKSDA Kalimantan Barat bersama Balai Taman Nasional Gunung Palung terhadap induk dan dua anak orangutan di Desa Tanjungpura.
Ketiganya terpaksa melarikan diri ke perkebunan warga karena habitat asli mereka habis dilalap api.
Proses evakuasi serupa juga berlangsung pada Rabu (2/9) malam di Kalimantan Tengah.
BKSDA Kalimantan Tengah berhasil menyelamatkan induk orangutan bernama Raya beserta anaknya, Rayu, yang terjebak di atas pohon saat api mengelilingi habitat mereka.
Kedua satwa tersebut kini berada di bawah pengawasan dokter hewan dari Orangutan Foundation International untuk pemulihan kesehatan sebelum nantinya dilepasliarkan kembali.
Dampak karhutla tidak hanya menyasar orangutan, tetapi juga mengancam keberlangsungan satwa liar lainnya.
Tim Manggala Agni di Ketapang melaporkan banyak satwa lain, seperti ular dan trenggiling, ditemukan mati atau mengalami luka bakar serius akibat terjebak dalam peristiwa tersebut.










