Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan gelombang aksi jual yang masif pada perdagangan Rabu, 10 September 2026. Mayoritas saham yang tergabung dalam indeks LQ45 mengalami tekanan koreksi yang cukup luas sebagai respons atas lonjakan harga tajam yang terjadi pada sesi sebelumnya.

Aktivitas perdagangan menunjukkan peningkatan likuiditas yang signifikan dengan total nilai transaksi harian melonjak mencapai Rp21,6 triliun. Angka tersebut mencatatkan kenaikan dibandingkan nilai transaksi pada hari sebelumnya yang berada di level Rp16,2 triliun.

Di tengah tingginya nilai transaksi tersebut, investor asing justru mengambil langkah keluar dari pasar. Pusat Data Kontan dan RTI mencatat bahwa pelaku pasar asing melakukan aksi jual bersih (net sell) dalam volume besar, yakni mencapai 2,12 miliar saham dengan nilai total sebesar Rp1,95 triliun.

Sentimen negatif ini memberikan dampak langsung pada pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar. PT Trimegah Bangun Persada (NCKL) menjadi salah satu saham yang mencatatkan penurunan tajam sebesar 4,98%. Di sisi lain, PT Indika Energy (INDY) juga mengalami tekanan jual yang cukup dalam dengan koreksi mencapai 7,69% setelah sempat mengalami reli pada perdagangan sebelumnya.

Meski mayoritas saham bergerak di zona merah, beberapa emiten mampu bertahan dan melawan arus pasar. PT Aneka Tambang (ANTM) menjadi satu-satunya saham di kelompok LQ45 tertentu yang berhasil mencatatkan penguatan sebesar 2,19%. Sementara itu, PT Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) menunjukkan ketahanan yang lebih impresif dengan mencatatkan kenaikan harga tertinggi di kelompoknya sebesar 4,79%.

Analisis pasar juga menyoroti valuasi saham berdasarkan rasio harga terhadap laba (Price Earning Ratio/PER) dan rasio harga terhadap nilai buku (Price to Book Value/PBV). Rasio PER digunakan untuk mengukur perbandingan harga saham dengan laba bersih per saham, sedangkan rasio PBV membandingkan harga pasar dengan nilai aset bersih perusahaan per saham.

Berdasarkan data yang dihimpun, PT Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) tercatat memegang status sebagai saham dengan PBV terendah di antara 20 saham yang dipantau, yakni berada di level 0,39 kali. Sementara itu, saham PT Bukit Asam (PTBA) tampak bergerak stagnan pada perdagangan hari tersebut di harga Rp3.100 per saham.

Tekanan jual juga melanda sejumlah emiten lainnya di sektor energi dan pertambangan. Saham PT Bumi Resources (BUMI), PT Merdeka Battery Materials (MBMA), dan PT Darma Henwa (DEWA) terpantau mengalami koreksi mendalam. Secara keseluruhan, pergerakan indeks pada tanggal 10 September 2026 ini menunjukkan volatilitas tinggi yang dipicu oleh aksi ambil untung investor setelah periode kenaikan harga yang cukup panjang sebelumnya. Kondisi pasar ini menuntut investor untuk lebih selektif dalam mencermati fundamental perusahaan di tengah ketidakpastian arus modal asing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *