Seoul – Korea Selatan menghadapi tantangan krusial dalam mengamankan pasokan energi nasional di tengah ambisi besar untuk mendominasi industri cip global dan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Lonjakan kebutuhan listrik diprediksi akan meningkat signifikan dalam beberapa tahun ke depan seiring rencana ekspansi produksi besar-besaran oleh raksasa teknologi Samsung Electronics dan SK Hynix.

Pemerintah Korea Selatan mengidentifikasi kebutuhan listrik yang dipicu oleh sektor AI saja akan melonjak hingga 25 hingga 30 gigawatt.

“Kebutuhan listrik yang didorong oleh AI saja akan meningkatkan permintaan listrik Korea Selatan sebesar 25 hingga 30 gigawatt,” ujar Menteri Iklim, Energi, dan Lingkungan Kim Sung-whan sebagaimana dikutip dari laporan Reuters, Jumat (11/9/2026).

Selain ekspansi industri, beban kelistrikan negara ini juga bakal bertambah akibat transisi sistem pemanas berbasis gas ke listrik serta peralihan masif kendaraan bermesin bensin menuju kendaraan listrik.

Pemerintah saat ini sedang menyusun pembaruan peta jalan energi jangka panjang hingga tahun 2040 yang dijadwalkan akan diumumkan bulan depan.

Salah satu poin krusial dalam dokumen tersebut adalah penentuan apakah Korea Selatan akan menambah jumlah reaktor nuklir untuk menopang beban listrik yang kian berat.

Secara teknis, tambahan daya sebesar 25 hingga 30 gigawatt setara dengan kapasitas 20 reaktor nuklir baru berdasarkan standar unit rancangan Korea Selatan saat ini.

Kim Sung-whan menegaskan bahwa peran energi nuklir tetap dianggap sebagai elemen penting dalam struktur bauran energi nasional, meskipun pemerintah masih meninjau detail teknisnya bersama para ahli.

Di sisi lain, ketergantungan pada energi nuklir masih menuai perdebatan sengit di tengah masyarakat terkait isu keselamatan.

Data pemerintah menunjukkan bahwa 79 persen dari 2.000 responden mendukung pembangunan reaktor baru, namun kelompok masyarakat di Ulsan secara vokal menolak rencana tersebut melalui pengumpulan tanda tangan.

Pemerintah sendiri berupaya menyeimbangkan ambisi teknologi dengan transisi energi terbarukan yang saat ini baru mencakup 11 persen dari total kebutuhan listrik nasional.

Ketertarikan perusahaan teknologi global seperti Nvidia untuk membangun pusat data di Korea Selatan juga menambah tekanan pada infrastruktur jaringan listrik negara tersebut.

Pemerintah memastikan bahwa klaster pabrik cip di wilayah barat daya tidak memerlukan reaktor baru karena sudah memiliki infrastruktur yang memadai.

Namun, wilayah pusat seperti Seoul tetap membutuhkan pasokan tambahan melalui pembangkit listrik tenaga surya atau gas alam cair (LNG) untuk menjaga kestabilan pasokan.

Selain itu, negara ini masih mengandalkan batu bara yang menyumbang 29 persen dari total kebutuhan listrik, dengan target penghentian operasional secara bertahap pada 2040.

Pemerintah berencana mempertahankan sebagian pembangkit listrik batu bara sebagai cadangan daya darurat guna memastikan keamanan energi nasional tetap terjaga di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *