Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kinerja impresif dengan kenaikan sebesar 3,55 persen sepanjang pekan perdagangan yang berakhir pada Jumat, 22 Agustus 2026.
Indeks ditutup pada level 6.525,69, mencerminkan optimisme pasar domestik di tengah dinamika ekonomi global yang menantang.
Namun, tren penguatan indeks ini tidak sejalan dengan perilaku investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Data BEI yang diolah melalui RTI Business menunjukkan bahwa investor asing justru mencatatkan aksi jual bersih atau net sell secara akumulatif sebesar Rp1,19 triliun selama periode satu pekan terakhir.
Fenomena ini mengindikasikan bahwa kenaikan IHSG yang signifikan belum sepenuhnya didorong oleh masuknya modal asing ke seluruh sektor pasar.
Kenaikan indeks lebih banyak ditopang oleh aliran dana domestik yang memburu saham-saham berkapitalisasi besar.
Sektor perbankan dengan kapitalisasi pasar jumbo menjadi motor utama yang menahan laju indeks di zona hijau.
Meskipun secara mingguan mencatatkan net sell, tekanan jual dari investor asing terpantau mulai melandai pada hari terakhir perdagangan.
Pada Jumat (22/8/2026), investor asing justru berbalik mencatatkan net buy sebesar Rp974,57 miliar di seluruh pasar.
Perubahan arah strategi investor asing ini menjadi sinyal penting bagi pelaku pasar untuk memantau pergerakan saham-saham big caps ke depannya.
Berdasarkan data RTI Business, terdapat sepuluh emiten yang paling banyak dilepas oleh investor asing dalam kurun waktu satu pekan terakhir.
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) memuncaki daftar dengan nilai net sell mencapai Rp652,01 miliar.
Di posisi kedua, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mencatatkan net sell sebesar Rp403,54 miliar.
Selanjutnya, PT Indosat Tbk (ISAT) berada di urutan ketiga dengan nilai jual bersih asing sebesar Rp391,64 miliar.
Emiten otomotif PT Astra International Tbk (ASII) juga tidak luput dari aksi jual dengan nilai Rp309,79 miliar.
PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) mengikuti di posisi kelima dengan angka net sell sebesar Rp236,26 miliar.
Sektor perbankan juga terkena dampak, di mana PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatatkan net sell sebesar Rp200,72 miliar.
PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) mencatatkan angka jual bersih sebesar Rp106,86 miliar.
Sementara itu, kelompok saham energi dan infrastruktur milik konglomerasi tertentu juga menjadi sasaran jual.
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mencatatkan net sell sebesar Rp102,59 miliar.
PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menyusul dengan nilai Rp102,32 miliar.
Terakhir, PT United Tractors Tbk (UNTR) melengkapi daftar sepuluh besar dengan nilai net sell sebesar Rp93,07 miliar.
Kondisi ini menunjukkan adanya pergeseran portofolio yang dilakukan oleh investor asing di pasar modal Indonesia.
Meskipun IHSG berhasil menguat, investor tetap perlu mencermati pola distribusi saham yang dilakukan oleh pelaku pasar global tersebut.
Stabilitas pasar ke depan akan sangat bergantung pada kemampuan indeks dalam mempertahankan level psikologisnya di tengah fluktuasi arus modal asing.










