Jakarta – Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman keamanan finansial di tengah pesatnya perkembangan transaksi digital. Kemudahan akses keuangan saat ini kerap disalahgunakan oleh pihak tidak bertanggung jawab melalui modus judi online, penipuan berbasis kecerdasan artifisial (AI), hingga jebakan utang konsumtif.
Para pakar dan pejabat negara memberikan penekanan khusus mengenai pentingnya literasi keuangan dan digital dalam acara Financial Healing: Wayang Kuliterasi yang berlangsung akhir pekan lalu. Mereka menyoroti bahwa di era modern, tantangan utama bukanlah cara memperoleh kekayaan, melainkan bagaimana menjaga dan mengelola aset tersebut agar tidak habis akibat perilaku konsumtif maupun penipuan.
Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Antonius Widodo Mulyono, menekankan prinsip dasar manajemen keuangan yang sehat. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak menyamakan total penghasilan dengan seluruh pengeluaran.
“Penghasilan tidak boleh sama dengan semuanya pengeluaran. Jadi, penghasilan itu harus disisihkan juga untuk simpanannya,” ujar Antonius dikutip dari Financial Healing: Wayang Kuliterasi (3/10/2026).
Antonius menambahkan bahwa disiplin dalam membedakan kebutuhan pokok dan keinginan sekunder menjadi krusial. Budaya pamer di media sosial sering kali memicu perilaku konsumtif yang tidak perlu.
Sementara itu, Jaksa Agung Muda Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara, Narendra Jatna, menyoroti aspek hukum dari transaksi digital yang semakin kompleks. Ia memperingatkan masyarakat mengenai bahaya judi online yang sering kali mengiming-imingi keuntungan instan.
“Jadi makin gampang (iming-imingnya) bukan makin mudah mendapatkannya (kekayaan). Malah makin sulit,” kata Narendra.
Menurutnya, masyarakat harus memahami bahwa penyelenggara judi online memiliki motif keuntungan pribadi. Ia menegaskan bahwa mengelola kekayaan jauh lebih menantang daripada sekadar mencarinya.
Di sektor digital, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi), Nezar Patria, menyoroti ancaman synthetic reality atau realitas sintetis. Teknologi AI kini mampu memanipulasi suara hingga wajah seseorang untuk menipu korban.
“Bisa meniru suara kita. Suara ayah kita. Suara adik kita. Dan bisa mengirimkan video,” ujar Nezar.
Ia menyarankan masyarakat untuk selalu bersikap skeptis terhadap tawaran yang terdengar terlalu muluk. Nezar menggunakan istilah too good to be true sebagai alarm bahaya yang harus diwaspadai setiap kali menerima pesan atau tautan mencurigakan.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Kepala II Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara, Tedi Bharata, menjelaskan bahwa pelaku penipuan sering kali menyerang sisi emosional korban. Penipu sengaja menciptakan kepanikan atau keserakahan agar korban mengambil keputusan tanpa berpikir panjang.
“Yang dimainkan oleh penipu itu adalah emosional kita. Bukan logika kita yang dimainkan,” ungkap Tedi.
Ia menyarankan agar masyarakat memberikan jeda waktu sebelum melakukan transaksi apa pun. Verifikasi informasi dari sumber resmi menjadi langkah vital untuk menghindari kerugian finansial yang signifikan.
Edukasi melalui pendekatan budaya seperti wayang dianggap efektif untuk menanamkan literasi keuangan. Dengan pemahaman yang lebih baik, diharapkan masyarakat tidak mudah terjerumus dalam jeratan teknologi yang merugikan.










