Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melanjutkan tren penguatan pada perdagangan hari ini, Selasa (6/10/2026).
Optimisme pasar tumbuh setelah indeks berhasil bangkit 1,36 persen ke level 6.118,86 pada penutupan perdagangan Senin (5/10).
Pemulihan ini didorong oleh sentimen positif dari Amerika Serikat terkait ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve yang lebih lunak.
Data tenaga kerja AS terbaru menunjukkan perlambatan signifikan dengan penambahan hanya 29.000 pekerjaan sepanjang September.
Angka tersebut jauh di bawah konsensus pasar yang memprediksi penambahan hingga 90.000 pekerjaan.
Tingkat pengangguran di Negeri Paman Sam pun tercatat naik ke posisi 4,2 persen.
Kondisi ekonomi ini memicu spekulasi bahwa The Fed mungkin akan menahan atau melonggarkan suku bunga acuan ke depan.
Meski demikian, pelaku pasar tetap diminta waspada mengingat investor asing masih membukukan aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp123 miliar pada sesi sebelumnya.
Risiko eksternal juga datang dari yield US Treasury tenor 10 tahun yang masih bertahan di level tinggi, yakni 5,3 persen.
Tingginya imbal hasil obligasi AS tersebut berpotensi menekan aliran modal masuk ke aset di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Perhatian investor kini tertuju pada rilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan pada 7 Oktober mendatang.
Dokumen tersebut akan menjadi acuan utama mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed setelah kenaikan federal funds rate ke kisaran 3,75 persen hingga 4,00 persen.
Selain itu, pasar akan memantau data perdagangan AS serta data ISM Services untuk mengukur stabilitas ekonomi global.
Dalam riset harian Sajian Pagi Menu Trading (SAPA MENTARI) BRI Danareksa Sekuritas, Selasa (6/10/2026), disebutkan bahwa secara teknikal, rebound IHSG telah terkonfirmasi setelah indeks bertahan di atas area psikologis 6.000.
“Selama mampu bertahan di atas 6.017, peluang technical rebound masih terbuka,” tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya.
Secara teknikal, indeks saat ini berada di atas level support Fibonacci 6.017.
Namun, indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) masih menunjukkan kondisi bearish yang menandakan pembalikan momentum belum sepenuhnya solid.
IHSG membutuhkan tenaga tambahan untuk menembus level resistance di 6.140 guna membuka jalan menuju target berikutnya di 6.240.
Sementara itu, batasan support indeks berada pada rentang 6.017 hingga 5.851.
Sentimen positif juga datang dari bursa saham Wall Street yang ditutup menguat pada awal pekan ini.
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,18 persen, S&P 500 menguat 0,66 persen, dan Nasdaq Composite terapresiasi 1,05 persen.
Terkait strategi investasi, analis merekomendasikan pembelian pada saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dengan kisaran harga Rp3.200-Rp3.250.
Saham PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) juga disarankan untuk dikoleksi di rentang Rp4.140-Rp4.240.
Selain itu, saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) masuk dalam radar beli pada kisaran harga Rp1.100-Rp1.140.
Sebaliknya, investor disarankan untuk melepas atau melakukan sell pada saham PT Cahaya Sakti Investindo Sukses Tbk (CSIS) karena indikasi pelemahan teknikal yang signifikan.










