Jakarta – Pasar aset kripto global saat ini tengah menghadapi tekanan signifikan akibat minimnya sentimen fundamental yang mampu memacu kenaikan harga secara berkelanjutan.
Kondisi pasar yang penuh ketidakpastian ini memaksa para investor untuk bersikap lebih selektif dalam mengelola portofolio aset digital mereka.
Data terkini dari CoinMarketCap per Senin (31/8/2026) menunjukkan performa Bitcoin yang berada di level US$ 78.029.
Angka tersebut mencatatkan pelemahan sebesar 0,88 persen dalam kurun waktu 24 jam terakhir.
Jika ditarik lebih jauh, aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar ini telah terkoreksi sebesar 1,30 persen dalam satu pekan.
Situasi serupa juga dialami oleh Ether yang diperdagangkan pada level US$ 2.454.
Aset kripto tersebut mengalami penurunan harga harian sebesar 0,51 persen.
Secara mingguan, Ether mencatatkan koreksi yang lebih dalam, yakni sebesar 2,13 persen.
Co-Founder CryptoWatch sekaligus Pengelola Channel Duit Pintar, Christopher Tahir, menekankan bahwa meskipun pasar sedang fluktuatif, Bitcoin dan Ether tetap menjadi aset yang layak untuk dipantau oleh para pelaku pasar.
Namun, ia memberikan peringatan keras kepada investor ritel agar menghindari aset kripto dengan kapitalisasi kecil di tengah volatilitas yang tinggi saat ini.
“Menurut saya, keduanya layak untuk diperhatikan. Namun, untuk investor pada umumnya, tidak disarankan untuk melirik koin yang lebih kecil, dikarenakan dapat mengekspos risiko yang terlalu besar,” ungkap Christopher sebagaimana dikutip dari pernyataannya pada Senin (31/8/2026).
Menurut analisis Christopher, pergerakan harga aset kripto saat ini masih sangat bergantung pada dinamika makroekonomi global.
Absennya katalis fundamental yang kuat membuat pasar hanya bereaksi terhadap spekulasi kebijakan moneter.
“Untuk saat ini, belum ada katalis yang mendasar yang dapat menggerakkan harga keduanya. Sehingga, saat ini penggerak utamanya hanya berdasarkan faktor makro, yaitu harapan ataupun ekspektasi suku bunga untuk The Fed nantinya,” jelasnya.
Investor kini menaruh perhatian penuh pada arah kebijakan suku bunga Federal Reserve Amerika Serikat yang diprediksi akan menjadi penentu utama arah pasar ke depan.
Selain itu, potensi koreksi lanjutan masih membayangi pasar jika terdapat sentimen negatif baru yang mampu mengubah sentimen investor.
“Koreksi lebih dalam dapat terjadi jika adanya faktor negatif yang secara fundamental dapat mengubah sentimen pasar secara umum,” tambahnya.
Menghadapi ketidakpastian tersebut, strategi dollar-cost averaging (DCA) dinilai menjadi langkah yang paling bijaksana bagi investor.
Strategi ini memungkinkan investor untuk melakukan pembelian aset secara bertahap guna meminimalisir risiko volatilitas harga.
Dengan melakukan akumulasi secara berkala, investor dapat menghindari jebakan masuk ke pasar di titik harga yang kurang menguntungkan.
Proyeksi hingga akhir tahun 2026 menunjukkan kemungkinan adanya fase koreksi yang lebih dalam bagi kedua aset utama tersebut.
Harga Bitcoin diprediksi berpotensi kembali menyentuh kisaran US$ 50.000.
Sementara itu, Ether diperkirakan memiliki risiko untuk kembali tertekan hingga di bawah level US$ 2.000 dalam beberapa bulan mendatang.










