Jakarta – Pasar aset kripto global mengalami tekanan jual signifikan sepanjang pekan ini, yang memicu penurunan harga pada dua aset utama, Bitcoin dan Ether.
Data CoinMarketCap pada Jumat (9/10/2026) menunjukkan Bitcoin berada di level US$ 82.945 atau terkoreksi sebesar 4,05%.
Kondisi serupa dialami oleh Ether, yang mencatatkan penurunan lebih dalam sebesar 9,01% ke posisi US$ 2.489.
Sentimen negatif pasar dipicu oleh arus keluar dana dari Exchange Traded Fund (ETF) kripto di Amerika Serikat.
Laporan CoinMarketCap mencatat, sebanyak 17.733 Bitcoin senilai kurang lebih US$ 1,48 miliar telah dipindahkan dari dompet digital milik pemerintah AS ke Coinbase Prime.
Transfer aset tersebut terjadi dalam rentang waktu tiga hari hingga 8 Oktober 2026.
Aset yang dipindahkan diduga kuat berasal dari penyitaan terkait kasus peretasan Bitfinex.
Meski belum ada konfirmasi resmi mengenai penjualan aset tersebut, perpindahan ini memicu kekhawatiran investor akan adanya tekanan jual besar-besaran.
Data ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat mencatat arus keluar bersih mencapai US$ 986,3 juta selama periode Oktober hingga 9 Oktober 2026.
Pada 9 Oktober saja, dana yang keluar dari produk investasi tersebut tercatat sebesar US$ 244,1 juta.
Sehari sebelumnya, arus keluar bahkan menyentuh angka US$ 484,9 juta.
Sementara itu, ETF Ether spot di AS mengalami nasib serupa dengan mencatatkan arus keluar selama delapan hari perdagangan berturut-turut.
Total dana yang keluar dari ETF Ether mencapai hampir US$ 580 juta hingga 8 Oktober 2026.
CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menjelaskan bahwa penurunan harga Ether yang lebih dalam dipicu oleh likuidasi masif pada posisi perdagangan berleverage.
“Penurunan ETH yang lebih dalam juga menunjukkan bahwa tekanan jual tidak merata di seluruh pasar,” ujar Yudhono kepada media, Jumat (9/10/2026).
Data menunjukkan bahwa dalam 24 jam pada 9 Oktober, likuidasi posisi Ether mencapai sekitar US$ 356 juta.
Pada periode yang sama, likuidasi posisi Bitcoin tercatat sekitar US$ 298 juta.
Secara keseluruhan, total likuidasi di pasar kripto menyentuh angka US$ 1,19 miliar.
Di tengah guncangan pasar, Thailand bersiap memfinalisasi aturan baru terkait ETF Bitcoin dan Ether domestik.
Aturan tersebut memungkinkan produk investasi kripto melantai di bursa saham nasional mulai 16 Oktober 2026.
Namun, efektivitas langkah ini masih dipertanyakan karena jumlah akun kripto aktif di Thailand dilaporkan turun 21,8% secara bulanan pada Juli lalu.
Co-Founder CryptoWatch sekaligus Pengelola Channel Duit Pintar, Christopher Tahir, menilai kondisi pasar saat ini merupakan momentum bagi investor jangka panjang.
Ia menyarankan investor untuk melakukan akumulasi aset secara bertahap di tengah koreksi harga.
“Investor dapat memilih untuk mengakumulasi pada setiap penurunan yang ada saat ini, dikarenakan adanya ekspektasi bahwa akan ada halving pada tahun depan, yang akan memperlambat laju penciptaan Bitcoin,” ujar Christopher.
Proyeksi harga untuk kuartal IV 2026 menunjukkan pandangan yang beragam dari para analis.
Yudhono memprediksi Bitcoin akan bergerak di kisaran US$ 80.000–US$ 90.000, sementara Ether di rentang US$ 3.000–US$ 3.500.
Di sisi lain, Christopher lebih berhati-hati dan memperkirakan tekanan pasar masih berpotensi berlanjut.
Ia memproyeksikan harga Bitcoin berisiko terkoreksi ke kisaran US$ 50.000 dan Ether menuju level US$ 2.000.










