Jakarta – Harga emas dunia mengalami tekanan pada penutupan perdagangan akhir pekan, Minggu (18/10/2026), akibat respons pasar terhadap potensi kebijakan moneter ketat dari bank sentral Amerika Serikat.

Emas di pasar spot mencatatkan pelemahan sebesar 0,11 persen hingga menetap di posisi 4.166,39 per ons pada Jumat (16/10/2026).

Berbanding terbalik dengan pasar spot, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember justru ditutup menguat 0,3 persen ke level 4.181,10 per ons.

Sentimen pasar saat ini berada dalam kondisi bimbang akibat ketidakpastian arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

“Pergerakan harga saat ini sangat terbatas dalam rentang tertentu dan cenderung mendekati batas bawah support. Penyebab utamanya adalah masih adanya ketidakpastian mengenai langkah apa yang akan diambil oleh Federal Reserve,” kata kepala strategi komoditas global di TD Securities, Bart Melek, sebagaimana dikutip Reuters.

Tekanan terhadap harga emas dipicu oleh rilis data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan tren inflasi masih persisten.

Indeks Harga Produsen (PPI) Amerika Serikat pada September 2026 tercatat mengalami lonjakan signifikan, yakni kenaikan terbesar dalam periode 4,5 tahun terakhir.

Kondisi tersebut diperparah oleh laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) yang dirilis Rabu lalu, yang mengonfirmasi percepatan laju kenaikan harga-harga di bulan September.

Presiden Federal Reserve Bank of Chicago, Austan Goolsbee, secara terbuka melabeli data inflasi terbaru tersebut sebagai sesuatu yang mengecewakan.

Dalam pandangan serupa, Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland, Beth Hammack, menegaskan bahwa bank sentral mungkin terpaksa mengambil langkah agresif.

Hammack menuturkan bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut diperlukan jika terjadi penurunan signifikan dalam ekspektasi inflasi di masyarakat.

Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, sejauh ini masih bersikap hati-hati dengan menyoroti kekuatan ekonomi AS tanpa memberikan sinyal spesifik mengenai kebijakan suku bunga mendatang.

Berdasarkan perangkat FedWatch Tool milik CME, pelaku pasar kini meyakini bahwa bank sentral AS akan menahan suku bunga pada pertemuan bulan ini.

Namun, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember 2026 kini telah melonjak hingga menyentuh angka 90 persen.

Kenaikan suku bunga menjadi ancaman bagi logam mulia karena karakteristik emas yang tidak memberikan imbal hasil (yield).

Kondisi ekonomi makro ini diprediksi akan terus membayangi pergerakan harga emas dalam jangka pendek hingga menengah.

“Sepanjang sisa tahun ini, harga emas kemungkinan akan cenderung melemah seiring dengan langkah The Fed yang terus menaikkan suku bunga, serta kekhawatiran mengenai berakhirnya lonjakan sektor kecerdasan buatan (AI) yang terbukti hanya bersifat sementara,” ujar ekonom bidang iklim dan komoditas di Capital Economics, Hamad Hussain, seperti dikutip Reuters.

Para investor kini tengah memantau ketat setiap pernyataan petinggi bank sentral sebagai indikator utama arah kebijakan moneter global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *