New York – Indeks utama Wall Street mengawali perdagangan Selasa (25/8/2026) dengan pelemahan di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dan domestik.

Para pelaku pasar saat ini tengah mencermati ancaman sanksi ekonomi Amerika Serikat terhadap Iran yang disebut sebagai “serangan finansial terbesar yang pernah ada.”

Kondisi geopolitik ini memicu kekhawatiran investor mengenai stabilitas pasar global, terutama terkait potensi lonjakan harga energi dan beban utang pemerintah.

Pada pembukaan sesi, indeks Dow Jones Industrial Average terkoreksi 15,1 poin atau 0,03% ke level 53.261,95, dikutip dari Reuters.

Indeks S&P 500 juga terpantau melemah 11,0 poin atau 0,14% ke posisi 7.663,38.

Sementara itu, indeks Nasdaq Composite mencatatkan penurunan paling dalam sebesar 115,1 poin atau 0,44% ke level 26.065,32.

Sentimen pasar semakin diperkeruh oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang sempat menyentuh level tertinggi dalam 19 tahun terakhir pada pekan lalu.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dijadwalkan akan memberikan keterangan resmi mengenai langkah strategis pemerintah dalam merespons tekanan ekonomi ini.

Laporan dari CNBC menyebutkan bahwa Departemen Keuangan AS tengah mempertimbangkan penggunaan Rekening Umum senilai US$ 1 triliun untuk mendanai pembelian kembali obligasi.

Langkah tersebut diambil sebagai alternatif untuk menghindari penerbitan surat utang jangka pendek yang dapat memperburuk kondisi pasar.

Di sisi lain, perhatian investor tertuju pada rilis laporan kinerja kuartalan Nvidia yang dianggap sebagai katalis utama bagi pergerakan saham teknologi.

Sektor cip saat ini dinilai tengah berada dalam fase euforia berlebihan yang membuat valuasi harga saham menjadi sangat sensitif terhadap berita negatif.

“Sektor cip telah menjadi area yang mengalami euforia berlebihan (frothy). Saya tidak tahu lagi kabar baik apa yang belum tercermin dalam harga saham saat ini,” ujar Marta Norton, kepala strategi investasi di Empower, dikutip dari Reuters.

Norton menambahkan bahwa meskipun fundamental perusahaan terlihat kuat, kondisi pasar saat ini membuat investasi di sektor tersebut menjadi kurang menarik secara valuasi.

Saham perusahaan teknologi besar menunjukkan pergerakan yang beragam, dengan Apple dan Amazon mencatatkan kenaikan tipis, sementara Alphabet justru melemah.

Produsen cip seperti Marvell Technology, Micron Technology, dan Sandisk mengalami tekanan jual yang cukup signifikan pada awal perdagangan.

Selain itu, pelaku pasar menantikan rilis data Personal Consumption Expenditure (PCE) pada hari Rabu mendatang.

Data PCE menjadi indikator krusial karena merupakan acuan inflasi utama bagi Federal Reserve dalam menentukan kebijakan suku bunga ke depan.

Investor juga menantikan pidato Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, di simposium Jackson Hole untuk mencari arah kebijakan moneter di tengah gejolak pasar saat ini.

“Hal ini tidak serta-merta berarti bahwa fundamental perusahaan sedang terganggu. Anda bisa saja memiliki perusahaan yang hebat, namun hal itu tidak selalu menjadikannya investasi yang menarik pada waktu tertentu,” kata Norton, dikutip dari Reuters.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *