Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual yang cukup signifikan pada perdagangan sesi pertama hari ini, Kamis (1/10/2026).

Berdasarkan data RTI, indeks acuan pasar modal Indonesia tersebut terkoreksi 0,83% atau setara dengan 50,442 poin menuju level 6.020,696.

Sentimen negatif mendominasi lantai bursa dengan catatan 433 saham mengalami pelemahan harga.

Sementara itu, hanya 219 saham yang mampu mencatatkan penguatan dan 134 saham lainnya cenderung stagnan.

Tekanan IHSG kali ini dipicu oleh pelemahan pada 10 indeks sektoral secara simultan.

Sektor IDX-Industry mencatat penurunan terdalam sebesar 1,83% di sesi perdagangan pagi.

Selain itu, sektor IDX-Trans dan IDX-Basic masing-masing menyusul dengan pelemahan sebesar 1,80% dan 1,20%.

Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi salah satu pemberat utama indeks dengan penurunan drastis sebesar 12,50% ke level Rp 28 per saham.

Penurunan juga melanda saham berkapitalisasi besar lainnya seperti PT United Tractors Tbk (UNTR) yang tergerus 3,97% ke harga Rp 26.000.

Emiten PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) turut tertekan sebesar 2,56% menjadi Rp 950 per saham.

Meski demikian, beberapa saham di jajaran LQ45 masih mampu mempertahankan momentum penguatan di tengah arus jual.

Saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) mencatatkan kenaikan sebesar 2,97% ke level Rp 11.275.

Penguatan juga terjadi pada PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) dengan kenaikan 1,55% menjadi Rp 394 per saham.

Selanjutnya, saham PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) ikut menguat tipis 0,58% ke posisi Rp 172.

Koreksi pasar ini terjadi di tengah rilis data ekonomi domestik yang sebenarnya menunjukkan performa cukup solid.

Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar US$ 3,55 miliar pada Agustus 2026.

Angka tersebut melampaui jauh estimasi pasar yang dalam jajak pendapat Reuters memprediksi surplus hanya sekitar US$ 630 juta.

Data LSEG menunjukkan bahwa surplus perdagangan Agustus 2026 merupakan capaian tertinggi sejak September 2025.

Kinerja ekspor tercatat tumbuh 6,72% secara tahunan menjadi US$ 26,61 miliar, di atas proyeksi ekonom sebesar 4,3%.

Di sisi lain, impor meningkat 19,09% menjadi US$ 23,06 miliar, angka yang lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 31,14%.

Dari sisi inflasi, tingkat inflasi tahunan September 2026 berada di angka 3,28%, naik tipis dari 3,19% pada Agustus.

Angka ini masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia di kisaran 1,5% hingga 3,5%.

Kenaikan harga bahan bakar serta komoditas pangan seperti beras, cabai, dan daging ayam menjadi pemicu utama inflasi bulan lalu.

Investor kini menanti respons pasar pada sesi perdagangan berikutnya untuk melihat apakah data fundamental ekonomi dapat membalikkan tren pelemahan IHSG.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *