Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi perdagangan Rabu (2/9/2026) dengan pelemahan tipis sebesar 0,06% ke posisi 6.595,78.

Pergerakan indeks sempat menunjukkan optimisme dengan menyentuh level tertinggi di angka 6.629 sebelum akhirnya terkoreksi oleh tekanan jual di pasar.

Kondisi pasar yang volatil dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas.

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang menyebutkan bahwa pasar saat ini berada di bawah bayang-bayang berbagai sentimen negatif yang menekan performa bursa.

“Sentimen negatif masih berasal dari tekanan jual di pasar obligasi global akibat kecemasan akan tingginya inflasi, potensi kenaikan suku bunga, serta tingginya beban utang,” ujarnya dikutip dari KONTAN.CO.ID, (2/9/2026).

Investor global kini cenderung mengadopsi sikap risk-off dengan mengalihkan aset ke instrumen yang lebih aman.

Langkah ini diambil sembari menunggu arah kebijakan suku bunga dari bank sentral besar dunia seperti The Federal Reserve, Bank of Japan, dan European Central Bank sepanjang bulan ini.

Di sisi lain, ekonomi domestik menunjukkan daya tahan yang cukup solid sebagai penyeimbang tekanan eksternal.

Head of Research KISI, Muhammad Wafi menyatakan bahwa pelantikan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia menjadi katalis positif bagi pasar modal tanah air.

“Inflasi Agustus masih dalam target, neraca dagang Juli surplus membalikkan defisit bulan sebelumnya, juga menjadi sentimen yang mendukung IHSG,” jelas Wafi melalui keterangan persnya, (2/9/2026).

Data inflasi nasional bulan Agustus yang tercatat sebesar 3,19% menjadi bukti bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menegaskan bahwa surplus neraca perdagangan memberikan bantalan yang cukup bagi pasar saham di tengah ketidakpastian global.

Secara teknikal, IHSG saat ini masih terjebak dalam fase konsolidasi dengan rentang pergerakan yang terbatas.

Wafi memproyeksikan area support indeks berada pada level 6.470-6.535, dengan level resistance di kisaran 6.665-6.730.

Untuk perdagangan Kamis (3/9/2026), IHSG diprediksi memiliki peluang untuk kembali menguat dengan support di level 6.578 dan resistance di level 6.604.

Alrich menambahkan bahwa meski IHSG masih berada di atas garis MA5, investor tetap perlu mewaspadai kenaikan volume jual yang terjadi belakangan ini.

Ia memperkirakan indeks akan bergerak sideways dalam rentang 6.550–6.650, dengan potensi pengujian level 6.500 jika terjadi penembusan ke bawah.

Fokus pelaku pasar pada perdagangan besok akan tertuju pada dinamika harga minyak dunia dan perkembangan konflik di Selat Hormuz.

Wafi menuturkan, “Sentimen utama untuk Kamis (3/9/2026) tetap ketegangan Selat Hormuz dan harga minyak, plus follow up-through confirmation Gubernur BI yang genuinely positive.”

Untuk sektor perbankan, investor asing tercatat masih melakukan akumulasi pembelian pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Saham perbankan seperti BBCA dan BMRI dinilai masih menarik untuk dicermati oleh para pelaku pasar.

Sementara itu, Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana merekomendasikan saham ARCI dan BRMS sebagai pilihan untuk perdagangan jangka pendek.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *