Jakarta – Rencana konsolidasi antara dua raksasa menara telekomunikasi, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), kembali mengemuka di industri infrastruktur digital nasional.

Wacana penggabungan usaha ini dipicu oleh laporan Bloomberg pada Senin (24/8) yang menyebutkan bahwa MTEL tengah memproses pemilihan bank investasi untuk memfasilitasi transaksi strategis tersebut.

Langkah ini diprediksi akan menciptakan entitas bisnis menara dengan skala masif yang mendominasi pasar domestik.

Hingga Rabu (2/9), pihak manajemen MTEL belum memberikan keterangan resmi terkait kabar konsolidasi tersebut saat dimintai konfirmasi.

Berdasarkan data operasional kuartal I 2026, entitas gabungan ini berpotensi menguasai total 64.993 menara dan lebih dari 100 ribu titik penyewaan.

Rincian aset menara mencakup 40.327 unit milik MTEL dan 24.666 unit milik TBIG.

Dari sisi basis penyewa, perusahaan hasil merger nantinya akan mengelola 105.097 tenant yang terdiri dari 63.333 penyewa di MTEL dan 41.764 penyewaan di TBIG.

Angka tersebut belum menghitung potensi tumpang tindih aset di lokasi yang sama atau duplikasi layanan bagi operator telekomunikasi yang sama.

MTEL saat ini memposisikan dirinya sebagai TowerCo independen terbesar di Asia Tenggara dengan sebaran aset 59% berada di luar Pulau Jawa.

Sebanyak 23.768 menara MTEL tersebar di wilayah Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, hingga Maluku dan Papua.

Sementara itu, TBIG mengandalkan bisnis penyewaan ruang menara dengan skema kontrak jangka panjang yang memberikan pendapatan berulang (recurring revenue).

Dalam dokumen Public Expose TBIG pada 9 Juni 2026, perseroan menegaskan bahwa mereka juga mengoperasikan infrastruktur kabel serat optik.

Kekuatan finansial gabungan kedua perusahaan juga didukung oleh ketergantungan operator seluler besar terhadap infrastruktur mereka.

Sekitar 89% pendapatan MTEL berasal dari operator seluler utama, dengan kontribusi terbesar dari Telkomsel sebesar 54%.

Selain itu, Indosat Ooredoo Hutchison menyumbang 21% dan XL Axiata memberikan kontribusi sebesar 14% bagi pendapatan perusahaan.

Di luar bisnis menara, integrasi jaringan serat optik menjadi nilai tambah strategis bagi entitas hasil merger.

MTEL tercatat memiliki 72.842 kilometer billable fiber per kuartal I 2026, yang mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 8,5% secara tahunan.

Dalam dokumen Public Expose Tahunan MTEL per 30 Juni 2026 disebutkan, “Ini didukung oleh ekspansi fiber-to-the-tower secara organik maupun anorganik seiring MNO yang terus memperkuat konektivitas jaringan.”

Meskipun TBIG memiliki infrastruktur serupa, detail panjang jaringan serat optik mereka belum dipublikasikan secara spesifik.

Transformasi bisnis menara saat ini mulai bergeser ke arah ekosistem infrastruktur digital yang lebih luas, termasuk layanan Power-as-a-Service (PaaS).

Jika merger terealisasi, entitas baru ini akan memiliki posisi tawar kuat dalam mengintegrasikan menara dengan jaringan fiber yang masif.

Hal ini sejalan dengan target MTEL pada 2026 yang mengalokasikan belanja modal sekitar Rp 2,9 triliun untuk penambahan 2.500 tenant dan 9.000 kilometer jaringan fiber.

Sinergi aset ini diproyeksikan mampu meningkatkan utilitas menara serta memperluas jangkuan konektivitas telekomunikasi nasional secara signifikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *