Jakarta – Ambisi besar OpenAI untuk mendominasi pasar kecerdasan buatan (AI) global semakin terlihat melalui target pendapatan tahunan yang disetahunkan atau annualized revenue sebesar 70 miliar dolar AS, atau setara Rp1.253 triliun, pada akhir
2026. Proyeksi ini mencerminkan tingginya permintaan layanan AI di sektor korporasi yang menjadi tulang punggung pertumbuhan perusahaan.
Langkah strategis ini diungkapkan di tengah dinamika pasar saham teknologi Amerika Serikat yang sedang mengalami tekanan signifikan. Menurut laporan yang dikutip dari Yahoo Finance, Minggu (11/10/2026), angka pendapatan tersebut merupakan estimasi berbasis kinerja periode singkat, bukan total penjualan yang telah dibukukan secara akumulatif.
Hingga akhir September 2026, OpenAI mencatatkan pendapatan tahunan yang disetahunkan di angka 50 miliar dolar AS atau sekitar Rp895 triliun. Angka ini menandakan percepatan operasional yang agresif, meski investor diingatkan bahwa pendapatan besar tidak selalu berkorelasi langsung dengan laba bersih.
Tantangan utama yang dihadapi OpenAI mencakup tingginya biaya operasional, mulai dari pengembangan infrastruktur pusat data hingga kebutuhan komputasi yang intensif. Pengelolaan biaya yang efisien menjadi penentu keberlanjutan bisnis di tengah persaingan ketat dengan kompetitor seperti Anthropic.
Perbedaan metode pencatatan pendapatan di antara perusahaan AI sering kali memicu kebingungan di kalangan investor. Misalnya, cara memperlakukan pendapatan dari penyedia layanan cloud dapat membuat perbandingan skala bisnis antarperusahaan menjadi tidak sebanding secara langsung.
Ketidakpastian ini berdampak pada sentimen pasar saham teknologi. Indeks Nasdaq 100 dilaporkan sempat terkoreksi 1,4 persen, sementara sektor produsen chip mengalami penurunan tajam sebesar 3,4 persen. Penurunan tersebut dipicu oleh kekhawatiran pasar bahwa pertumbuhan industri AI mungkin tidak secepat ekspektasi awal investor.
Di sisi lain, OpenAI dikabarkan tengah menjajaki putaran pendanaan baru senilai 30 miliar dolar AS atau sekitar Rp537 triliun. Dana segar ini ditargetkan untuk memperkuat posisi perusahaan sebelum rencana penawaran saham perdana (IPO) dilakukan.
Berdasarkan informasi yang beredar, OpenAI kemungkinan besar menunda rencana melantai di bursa hingga setidaknya tahun
2027. Keputusan tersebut diambil guna memprioritaskan aspek keselamatan pengembangan teknologi AI sebelum perusahaan benar-benar terbuka untuk publik.
Sebaliknya, kompetitor utama mereka, Anthropic, diprediksi berpotensi melakukan IPO lebih cepat, yakni pada November
2026. Persaingan ketat dalam menghimpun modal dan memperebutkan pangsa pasar korporasi ini diperkirakan akan terus memengaruhi volatilitas saham teknologi dalam waktu dekat.
Investor disarankan untuk tetap objektif dalam membedakan antara potensi jangka panjang AI dan ekspektasi jangka pendek yang kerap fluktuatif. Kondisi ekonomi makro, suku bunga, dan efisiensi operasional masing-masing perusahaan tetap menjadi variabel penentu utama di luar besaran angka pendapatan yang diproyeksikan.








