Jakarta – Pasar Surat Utang Negara (SUN) di Indonesia saat ini menunjukkan pergerakan yang cenderung stagnan dan minim arah.

Para investor di pasar domestik terpantau lebih memilih untuk bersikap wait and see atau menepi sejenak dari aktivitas perdagangan yang agresif.

Sikap kehati-hatian ini dipicu oleh ketidakpastian kondisi ekonomi global serta kewaspadaan mendalam terhadap tekanan inflasi yang kian nyata.

Sentimen negatif dari pasar global turut mempengaruhi psikologi investor lokal dalam menentukan posisi aset mereka.

Di bursa Wall Street, pergerakan indeks ditutup bervariasi pada awal pekan ini dengan kenaikan tipis pada Dow Jones sebesar 0,38%.

Sementara itu, indeks S&P 500 dan Nasdaq justru mengalami pelemahan masing-masing sebesar 0,06% dan 0,44%.

Ketegangan geopolitik yang memanas di wilayah Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak mentah dunia.

Kondisi tersebut secara langsung meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar akan potensi kenaikan inflasi global yang lebih lanjut.

Investor saat ini tengah memantau rilis data inflasi Amerika Serikat serta mengantisipasi dimulainya musim laporan keuangan kuartal ketiga.

Sektor energi menjadi sorotan sebagai sektor dengan kinerja unggul, sementara saham-saham sektor teknologi justru tertekan.

Pasar US Treasury tidak mencatatkan perubahan nilai karena sedang menjalani libur memperingati Columbus Day.

Pasar obligasi global lainnya juga menunjukkan pergerakan minimal, seperti Gilt Inggris dan Bund Jerman yang mengalami penurunan yield sangat tipis.

Pasar domestik Jepang pun turut tutup seiring dengan perayaan Hari Olahraga di negara tersebut.

Meskipun pasar SUN relatif terbatas, aksi beli selektif masih terjadi pada beberapa tenor obligasi pemerintah.

Yield SUN tenor 5 tahun tercatat turun 0,2 basis poin menjadi 7,01%, sedangkan tenor 10 tahun berada di level 7,18%.

Volume transaksi mayoritas terkonsentrasi pada seri benchmark yang likuid serta seri off-the-run.

Seri FR0110 memimpin dengan nilai transaksi mencapai Rp 2,33 triliun, disusul PBS030 sebesar Rp 1,55 triliun, dan PBS040 sebesar Rp 0,84 triliun.

Pemerintah sendiri telah mematok target indikatif lelang SUN hari ini sebesar Rp 30 triliun.

Proyeksi jumlah penawaran masuk atau incoming bids diperkirakan berada di kisaran Rp 45 triliun hingga Rp 50 triliun.

Angka tersebut setara dengan 1,5 hingga 1,7 kali lipat dari target indikatif yang ditetapkan pemerintah.

Economist & Fixed Income Analyst MNC Sekuritas, Ridwan Adi Gunawan, menyatakan bahwa lelang hari ini akan menjadi tolok ukur selera investasi pasar terhadap kenaikan yield terkini.

“Permintaan mungkin akan tetap tidak merata di seluruh tenor karena investor menyeimbangkan tingkat yield awal yang membaik dengan risiko eksternal yang masih membayangi,” ujar Ridwan dalam risetnya, Selasa (13/10/2026).

Pergerakan yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun pada perdagangan hari ini diprediksi berada dalam rentang 7,10% hingga 7,25%.

Bagi investor yang berminat melakukan trading, beberapa seri yang direkomendasikan untuk dicermati meliputi FR0064, PBS030, FR0104, FR0109, dan FR0080.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *