Jakarta – Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) memastikan keberlanjutan pembangunan apartemen di 12 titik kawasan berorientasi transit atau transit oriented development (TOD).
Keputusan ini diambil meski sejumlah proyek LRT City yang dikelola PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) saat ini masih dalam kondisi mangkrak.
Kebijakan tersebut didukung oleh suntikan dana segar dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).
Danantara diketahui telah mengalokasikan dana hingga Rp 456 miliar kepada PT Adhi Commuter Properti (ADCP), yang merupakan anak usaha dari Adhi Karya.
Wakil Kepala BP BUMN, Aminuddin Ma’ruf, menyatakan bahwa rencana pembangunan mencakup seluruh 12 titik lokasi yang tersebar di beberapa wilayah strategis.
Lokasi tersebut mencakup area Bekasi di Jawa Barat, Tebet di Jakarta Selatan, Ciracas di Jakarta Timur, hingga Bogor di Jawa Barat.
“Ada juga yang sama sekali belum dibangun yang nanti kami bangun,” ujar Aminuddin dikutip dari keterangan resmi yang dirilis di Gedung BP BUMN, Selasa (15/9).
Terkait prioritas pembangunan, pihak BP BUMN belum menentukan urutan lokasi yang akan dikerjakan lebih dulu.
Aminuddin menyebutkan bahwa pihaknya akan melakukan identifikasi lapangan untuk menentukan skala prioritas berdasarkan tingkat kelayakan dan permintaan pasar.
Faktor tingkat penjualan di setiap lokasi akan menjadi salah satu pertimbangan utama dalam menentukan urutan pengerjaan proyek.
“Yang kedua juga memang keterjualannya sudah paling banyak, itu yang pasti kami hubungkan. Tapi memang 12 lokasi itu kami mau bangun semuanya,” tambah Aminuddin.
Hingga saat ini, pihak otoritas belum membuka opsi pengembalian dana atau refund bagi konsumen.
Di sisi lain, Direktur Portofolio Bisnis dan Risiko Adhi Karya, Rozi Sparta, mengungkapkan bahwa proses uji tuntas atau due diligence tengah dilakukan.
Langkah ini dilakukan bersama Danantara Asset Management (DAM) untuk memetakan kondisi terkini di seluruh lokasi pengembangan proyek LRT City.
“Saat ini perseroan dan Danantara Asset Management sedang melakukan pelaksanaan uji tuntas atas proyek-proyek yang dikembangkan di anak perusahaan,” ujar Rozi sebagaimana dikutip dari Public Expose Live 2026 yang berlangsung pada Rabu (9/9).
Data internal menunjukkan sebanyak 5.400 unit LRT City telah terjual kepada masyarakat.
Sebanyak 3.000 unit di antaranya sudah diserahterimakan kepada pemilik, sementara 2.400 unit lainnya masih tertunda penyelesaiannya.
Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menegaskan bahwa penyelesaian proyek harus memprioritaskan kepentingan konsumen.
Ia mengakui bahwa keterlambatan ini merupakan tanggung jawab internal perusahaan yang tidak boleh merugikan pembeli.
“Karena konsumennya tidak salah, apalagi kalau orang-orang yang membeli rumah itu, rumah pertamanya karena ini adalah kesalahan daripada pihak kami secara internal,” tutur Dony, Selasa (15/9).
Adhi Karya kini diperintahkan untuk menyusun rencana bisnis dan menghitung kebutuhan biaya untuk menuntaskan sisa proyek tersebut.
Hasil perhitungan ini akan menjadi landasan bagi Danantara dalam menentukan skema penyelesaian yang paling efisien bagi konsumen.
Dony menekankan bahwa persoalan ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut mengingat konsumen telah memenuhi seluruh kewajiban pembayarannya.
“Bagaimanapun ini harus diselesaikan. Tidak mungkin nanti merugikan konsumen. Jadi bagi saya ini harus diselesaikan, baik nanti kita mengembalikan dan/atau kita membangun,” tegas Dony.










