New York – Pasar saham Wall Street menunjukkan kinerja yang beragam pada penutupan perdagangan Kamis (8/10), dipicu oleh sentimen negatif dari sektor teknologi dan ketidakpastian geopolitik global.
Indeks Nasdaq yang menjadi barometer sektor teknologi mencatatkan koreksi paling dalam sebesar 1,25% ke posisi 27.193,34.
Indeks S&P 500 turut tertekan dengan pelemahan 0,47% menjadi 7.765,36.
Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average berhasil melawan arus dengan penguatan 51,77 poin atau 0,1% ke level 51.231,64.
Tekanan pada saham teknologi dipicu oleh laporan keuangan OpenAI yang menunjukkan pendapatan tahunan berada di bawah ekspektasi pasar.
Sentimen tersebut berdampak langsung pada emiten besar di sektor kecerdasan buatan (AI).
Saham Oracle merosot lebih dari 5% dalam sesi perdagangan tersebut.
Produsen cip Nvidia juga mengalami penurunan nilai saham sebesar hampir 3%.
Advanced Micro Devices (AMD) turut terseret dengan pelemahan mencapai 4%.
Kondisi pasar juga diwarnai oleh fluktuasi harga minyak mentah akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Harga minyak mentah Brent ditutup naik 4,07% menjadi US$ 104,28 per barel.
Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) juga menguat 3,64% ke level US$ 91,49 per barel.
Ketegangan sempat memuncak setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan keengganan untuk mencapai kesepakatan damai dengan Iran.
Namun, harga minyak sempat terkoreksi dari titik tertingginya setelah Trump memberikan pernyataan bahwa serangan militer tidak akan dilakukan sebelum pemilihan sela bulan depan.
Investor kini mengalihkan fokus pada dinamika imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury.
Imbal hasil Treasury tenor 10 tahun turun 5 basis poin menjadi 5,227% pada perdagangan Jumat (9/10).
Sementara itu, imbal hasil tenor 30 tahun terkoreksi 6 basis poin menjadi 5,601%.
Penurunan tersebut terjadi pasca lelang obligasi tenor 30 tahun oleh Departemen Keuangan AS yang mendapatkan respons positif dari pelaku pasar.
Ahli Strategi Investasi Baird, Ross Mayfield, menyatakan bahwa tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi telah mengubah pandangan Federal Reserve terhadap kebijakan moneter.
“Serta harga minyak turun dari US$ 90 per barel menjadi US$ 70 per barel, imbal hasil obligasi akan turun secara signifikan,” ujar Mayfield dikutip CNBC International, Jumat (9/10).
Mayfield menambahkan bahwa kenaikan imbal hasil obligasi tenor panjang berpotensi memberikan tekanan berkelanjutan bagi pasar saham.
Dia memprediksi pasar saat ini tengah melakukan penyesuaian terhadap tingkat imbal hasil di kisaran 5% hingga 6%.
“Pasar sedang menyesuaikan diri dengan tingkat imbal hasil yang baru ini,” ujar Mayfield.
Di tengah volatilitas tersebut, saham Palantir Technologies justru menunjukkan performa positif dengan kenaikan 2%.
Sentimen tersebut didorong oleh peningkatan peringkat saham dari Goldman Sachs.
Goldman Sachs menilai Palantir memiliki potensi pertumbuhan besar melalui pengembangan aplikasi khusus dan adopsi AI berdaulat.
Secara keseluruhan, analis menilai pasar tetap tangguh meski dihantui kekhawatiran mengenai suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama atau normal for longer.










