Jakarta – Ketidakpastian kondisi fiskal di Amerika Serikat kini memicu pergeseran dinamika pasar keuangan global yang berdampak signifikan terhadap imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury (UST).
Lonjakan imbal hasil UST tenor 10 tahun yang mencapai level 5,18% pada Jumat (25/9) menunjukkan kekhawatiran pelaku pasar yang semakin meningkat.
Pada saat yang sama, yield UST tenor 30 tahun turut terkerek hingga menyentuh angka 5,46%.
Kondisi ini memicu spekulasi mengenai potensi aliran modal besar yang akan berpindah dari pasar obligasi AS menuju negara berkembang atau emerging market, termasuk Indonesia.
Syailendra Capital Research Team dalam riset bertajuk “US Fiscal Risk, EM Opportunity” mengonfirmasi bahwa tekanan terhadap pasar obligasi AS memang tengah melebar.
Tingginya beban utang pemerintah AS yang kini menyentuh angka US$ 40,2 triliun menjadi faktor utama kebutuhan pembiayaan negara tersebut membengkak.
Kondisi tersebut secara langsung memaksa investor untuk menuntut term premium yang lebih tinggi atas risiko yang mereka tanggung.
“Investor obligasi AS mulai memperhitungkan risiko fiskal dan tingginya pasokan obligasi, sehingga kenaikan yield lebih terasa pada tenor panjang,” tulis Syailendra Capital Research Team dalam riset yang dirilis Jumat (25/9/2026).
Di tengah volatilitas pasar global tersebut, posisi pasar obligasi Indonesia dinilai cukup kokoh.
Data menunjukkan bahwa arus masuk dana asing ke Surat Berharga Negara (SBN) domestik telah melonjak tajam hingga delapan kali lipat dibandingkan total akumulasi sepanjang tahun 2025.
Pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia atau IndoGB pun terpantau jauh lebih stabil dibandingkan dengan gejolak yang terjadi pada UST.
“Perubahan risk appetite dan pergeseran foreign bond flows berpotensi menguntungkan emerging market Asia,” jelas Syailendra Capital Research Team.
Kepercayaan investor global terhadap aset domestik juga terlihat dari tingginya penyerapan global bond Indonesia.
Hingga Agustus 2026, realisasi penerbitan global bond Indonesia tercatat mencapai US$ 17,4 miliar.
Angka tersebut mencatatkan rekor baru karena telah melampaui total penerbitan obligasi global Indonesia sepanjang tahun 2024 dan 2025 secara keseluruhan.
Tingginya aktivitas penerbitan ini menjadi indikator kuat bahwa minat investor global terhadap instrumen utang Indonesia masih sangat terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi AS.
Para investor kini disarankan untuk mulai mempertimbangkan instrumen pendapatan tetap sebagai sarana untuk menangkap momentum rotasi dana tersebut.
Beberapa produk investasi seperti Syailendra Sharia Fixed Income Fund (SSFIF) yang berbasis sukuk korporasi durasi pendek menjadi salah satu opsi bagi investor.
Selain itu, instrumen seperti Syailendra Pendapatan Tetap Premium (SPTP) juga ditawarkan sebagai alternatif dengan alokasi obligasi korporasi yang dominan.
Instrumen tersebut turut memanfaatkan obligasi negara dan deposito berjangka sebagai cadangan likuiditas, dengan tambahan porsi saham maksimal 10% untuk mengoptimalkan imbal hasil.










