Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada perdagangan awal pekan, Senin (21/9/2026).

Data Bloomberg mencatat mata uang Garuda ditutup di level Rp 17.847 per dolar AS.

Angka ini merepresentasikan pelemahan sebesar 0,50% dibandingkan posisi penutupan pada perdagangan sebelumnya.

Situasi serupa terlihat pada data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR).

Rupiah berada di posisi Rp 17.813 per dolar AS.

Level tersebut melemah 0,38% dari posisi Jumat (18/9/2026) yang berada di angka Rp 17.745 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah meningkatnya atensi pelaku pasar terhadap Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI).

Pertemuan krusial tersebut dijadwalkan akan berlangsung pada Rabu (23/9/2026).

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyebut pasar kini mencermati dinamika nilai tukar, inflasi, serta kebijakan bank sentral global.

Menurut Ibrahim, arah kebijakan bank sentral di berbagai negara saat ini cenderung terfragmentasi.

Sebagian bank sentral memilih bersikap hawkish, sementara yang lain masih memiliki ruang untuk melakukan pelonggaran kebijakan.

“Namun melihat situasi inflasi global yang tinggi, kemungkinan Gubernur Bank Indonesia dalam rapat di hari Rabu akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps,” ujar Ibrahim sebagaimana dikutip dari keterangan tertulisnya, Senin (21/9/2026).

Pandangan berbeda datang dari Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong.

Ia menilai pelemahan rupiah didorong oleh kekhawatiran investor menjelang RDG BI.

“Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS di tengah kekhawatiran investor menjelang RDG BI yang dimana BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga,” kata Lukman, Senin (21/9/2026).

Lukman mencatat bahwa secara umum mata uang di kawasan Asia justru cenderung menguat pada perdagangan Senin ini.

Sentimen positif tersebut muncul akibat antisipasi pasar terhadap agenda pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.

Pertemuan kedua pemimpin negara besar itu dijadwalkan berlangsung pada akhir pekan ini.

Meski mata uang regional menguat, rupiah tetap tertekan karena adanya sentimen domestik yang membebani pergerakan mata uang.

Pasar juga menanti langkah konkret Bank Indonesia dalam melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Terkait proyeksi perdagangan ke depan, Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp 17.750 hingga Rp 17.900 per dolar AS.

Sementara itu, Ibrahim memberikan proyeksi yang lebih konservatif.

Ia memprediksi rupiah akan terus bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp 17.840 hingga Rp 17.900 per dolar AS.

Ketidakpastian kebijakan moneter global dan domestik menjadi faktor utama yang mendasari fluktuasi rupiah saat ini.

Para pelaku pasar kini menantikan sinyal kebijakan yang akan dikeluarkan oleh Bank Indonesia pada tengah pekan nanti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *