Jakarta – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) bersiap mengucurkan dana segar senilai US$ 1 miliar atau setara Rp 17,87 triliun untuk memperluas portofolio investasi hingga akhir tahun 2026.
Dana tersebut direncanakan untuk mengakuisisi saham serta obligasi, baik di pasar domestik maupun mancanegara.
Langkah strategis ini dilakukan di tengah ketidakpastian status pasar modal Indonesia menjelang tinjauan indeks global MSCI pada November mendatang.
Kepala Investasi Publik Danantara Investment Management, Rani Piputri, menjelaskan bahwa pihaknya telah menginvestasikan sekitar US$ 3 miliar sejak akhir tahun lalu.
Rani menyatakan, keputusan untuk melakukan investasi tambahan akan sangat bergantung pada dinamika pasar serta valuasi aset yang tersedia.
“Jika terjadi krisis di pasar dan kami menilai tekanan tersebut hanya didasarkan pada sentimen eksternal yang sangat sementara, kami mungkin akan masuk ke pasar,” ujar Rani seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (10/10).
Potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi frontier market oleh MSCI telah memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar.
Peringatan mengenai risiko penurunan status ini sebenarnya sudah disampaikan oleh MSCI sejak Januari lalu.
Kendati demikian, kehadiran Danantara di pasar domestik diprediksi dapat meredam dampak negatif jika penurunan klasifikasi tersebut benar-benar terjadi.
Rani menegaskan bahwa keterlibatan Danantara di pasar saham bukan bertujuan sebagai instrumen stabilisasi harga.
“Kami membeli karena melihat ada nilai investasi. Tujuannya bukan untuk menstabilkan pasar,” tegasnya.
Menurut Rani, lembaga tersebut justru mencari peluang saat aset sedang tidak diminati oleh investor lain karena alasan sentimen sesaat.
Strategi ini memungkinkan Danantara memperoleh aset dengan valuasi yang menarik sebelum nantinya dilepas kembali saat minat pasar terhadap aset tersebut membaik.
Danantara sendiri merupakan lembaga yang berada di bawah komando langsung Presiden Prabowo Subianto sejak peluncurannya pada awal 2025.
Lembaga ini memegang mandat untuk mengelola aset negara dengan nilai total mencapai US$ 900 miliar yang tersebar di lebih dari 1.000 perusahaan.
Portofolio investasi Danantara saat ini terdiri dari 65% saham, 30% instrumen pendapatan tetap, dan 5% dana lindung nilai.
Sebanyak 25% dari total portofolio tersebut saat ini telah ditempatkan di pasar Indonesia.
Selain fokus pada pasar modal, Danantara juga mulai melirik sektor teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI).
Rani menyatakan bahwa pihaknya tetap bersikap sangat hati-hati dalam memasuki sektor AI karena menganggap posisi Danantara saat ini relatif terlambat.
Lembaga tersebut berkomitmen melakukan uji tuntas atau due diligence secara mendalam sebelum mengambil keputusan investasi di bidang tersebut.
“Kami mungkin akan masuk. Namun, ada banyak uji tuntas yang harus kami lakukan,” pungkasnya.










