Jakarta – Prospek penurunan suku bunga acuan di Indonesia menghadapi tantangan berat seiring dengan meningkatnya tekanan inflasi global yang membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat.
Situasi ekonomi global yang tidak menentu ini diprediksi akan memaksa Bank Indonesia (BI) untuk menahan BI-Rate di level saat ini dalam jangka waktu yang lebih panjang.
Kondisi tersebut secara langsung berdampak pada imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) yang diproyeksikan akan tetap berada pada level tinggi hingga akhir tahun 2026.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy, menyatakan bahwa terbatasnya ruang bagi bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), untuk memangkas suku bunga menjadi faktor kunci.
Berdasarkan analisisnya, yield obligasi pemerintah dengan tenor 5 tahun diperkirakan akan bergerak dalam rentang 7,0% hingga 7,35% hingga penghujung tahun 2026.
Sementara itu, untuk instrumen SBN acuan bertenor 10 tahun, yield diproyeksikan akan naik ke kisaran 7,15% hingga 7,55%.
Angka tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 20 hingga 40 basis poin (bps) dari posisi saat ini yang berada di level 7,17%.
“Jika tekanan global memburuk dan spread dengan US Treasury kembali melebar, yield bahkan bisa mendekati 7,8%,” ujar Budi dalam keterangannya, Jumat (16/10/2026).
Peningkatan yield SBN ini berkaitan erat dengan daya tarik obligasi pemerintah Amerika Serikat yang semakin menguat di mata investor global.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran mengenai potensi pengalihan dana oleh investor ke aset berdenominasi dolar AS yang lebih aman.
Situasi ini sekaligus meningkatkan risiko terjadinya arus modal keluar atau capital outflow dari pasar keuangan domestik dalam skala besar.
Dalam skenario terburuk, pasar surat utang Indonesia berisiko kehilangan arus modal asing sebesar Rp 10 triliun hingga Rp 30 triliun menjelang akhir tahun.
Namun, Budi menegaskan bahwa angka tersebut merupakan bentuk simulasi risiko dan bukan proyeksi kepastian yang akan terjadi di pasar.
“Namun, ini merupakan simulasi risiko, bukan proyeksi pasti. Permintaan investor domestik masih dapat menjadi penyangga,” paparnya.
Dinamika global yang penuh tekanan ini secara otomatis mempersempit ruang gerak Bank Indonesia untuk melakukan kebijakan moneter yang lebih longgar.
Bank sentral diprediksi akan lebih memprioritaskan stabilitas nilai tukar rupiah dibandingkan memaksakan penurunan suku bunga acuan dalam waktu dekat.
BI diperkirakan akan tetap mempertahankan BI-Rate di level 5,75% hingga akhir 2026 mendatang.
Kebijakan penahanan suku bunga ini bahkan berpotensi berlanjut hingga awal tahun 2027 jika tekanan eksternal terhadap ekonomi domestik masih tetap tinggi.
Fokus utama otoritas moneter saat ini tetap pada upaya menjaga resiliensi pasar keuangan nasional di tengah ketidakpastian arus modal global yang masih menghantui pasar berkembang seperti Indonesia.










