Jakarta – Sejumlah emiten holding investasi di Indonesia menghadapi tekanan kinerja yang signifikan sepanjang semester I 2026 akibat tingginya volatilitas pasar modal.
Penurunan nilai portofolio saham yang tercatat melalui mekanisme mark-to-market menjadi faktor utama yang menggerus laba bersih perusahaan-perusahaan tersebut.
PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) tercatat mengalami kerugian neto atas investasi saham dan efek lainnya sebesar Rp 4,83 triliun.
Angka tersebut mencerminkan lonjakan kerugian sebesar 165,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di angka Rp 1,82 triliun.
Akibatnya, SRTG harus membukukan rugi bersih sebesar Rp 3,87 triliun, berbalik dari kondisi laba bersih Rp 102,01 miliar pada semester I 2025.
Investor Relations Saratoga, Mellisa Holidi, menyatakan bahwa sebagai perusahaan investasi, pergerakan nilai portofolio perseroan memang mengikuti dinamika pasar modal yang fluktuatif.
“Fokus utamanya berpusat pada penciptaan pertumbuhan nilai yang berkelanjutan melalui optimalisasi portofolio, peningkatan efisiensi operasional, serta penguatan strategi bisnis di seluruh perusahaan portofolio,” ujar Mellisa dikutip dari KONTAN, Senin (31/8/2026).
Tekanan serupa dialami oleh PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) yang mencatatkan rugi atas investasi neto sebesar Rp 2,28 triliun per Juni 2026.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan capaian tahun lalu di mana perseroan mampu mencatatkan laba investasi neto sebesar Rp 1,31 triliun.
Selanjutnya, PT Provident Investasi Bersama Tbk (PALM) turut melaporkan kerugian neto investasi sebesar Rp 670,61 miliar, setelah pada periode sebelumnya mampu mencetak laba Rp 587,36 miliar.
Sementara itu, PT Astra International Tbk (ASII) mencatat rugi perubahan nilai wajar investasi lain-lain sebesar Rp 837 miliar yang dibukukan dalam penghasilan komprehensif lain.
Head of Corporate Investor Relations ASII, Tira Ardianti, menjelaskan bahwa kerugian tersebut mencerminkan fluktuasi nilai pasar atas investasi ekuitas grup.
“Sementara itu, kerugian penyesuaian nilai wajar atas investasi ekuitas Grup yang dicatat pada semester pertama 2026 adalah sebesar Rp 259 miliar, terutama mencerminkan fluktuasi nilai pasar atas investasi ekuitas Grup,” ujar Tira dikutip dari KONTAN, Senin (31/8/2026).
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai kerugian para emiten ini merupakan unrealized loss yang dipicu oleh volatilitas ekstrem Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Menurut Wafi, kebijakan freeze MSCI, konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi, serta aksi jual bersih investor asing menjadi sentimen pemberat bagi portofolio emiten.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menambahkan bahwa kerugian ini tidak berasal dari operasional bisnis inti, melainkan dampak penurunan harga saham dalam portofolio investasi masing-masing perusahaan.
Para analis sepakat bahwa prospek pemulihan kinerja pada semester II 2026 akan sangat bergantung pada stabilitas IHSG, pergerakan harga komoditas, serta kebijakan suku bunga global dan domestik.










