Jakarta – Pasar aset kripto global saat ini menghadapi tekanan signifikan akibat ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat serta dinamika makroekonomi yang membatasi pergerakan harga.

Data dari CoinMarketCap per Kamis (15/10/2026) menunjukkan Bitcoin (BTC) terkoreksi sebesar 1,88% dalam 24 jam terakhir ke level US$ 81.713,25.

Ethereum (ETH) juga mengalami penurunan lebih dalam sebesar 3,24% menjadi US$ 2.421,53.

Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar kripto global mencatatkan penyusutan sebesar 2,3% menjadi US$ 2,74 triliun.

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury tenor 10 tahun menjadi faktor utama yang mengalihkan minat investor dari aset berisiko ke instrumen berpendapatan tetap.

Presiden Direktur PINTU, Andy Putra, menyatakan bahwa kondisi makroekonomi saat ini bertindak sebagai penghambat utama bagi penguatan aset digital.

“Kondisi makroekonomi merupakan pendorong sekaligus penghambat paling kuat untuk aset kripto saat ini,” ujar Andy dikutip dari keterangan resmi, Rabu (14/10/2026).

Ia menambahkan bahwa selama ekspektasi suku bunga tinggi tetap bertahan, aset kripto akan terus menghadapi rintangan untuk mencatatkan reli harga.

CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, turut menyoroti data inflasi (CPI) AS sebagai variabel penentu paling krusial bagi masa depan pasar kripto hingga penghujung tahun 2026.

“Menurut saya, pasar kripto hingga akhir 2026 masih berpeluang mengalami pemulihan, tetapi pergerakannya kemungkinan tetap volatil dan tidak merata di seluruh aset,” ungkap Yudhono dalam keterangannya.

Yudhono mengingatkan bahwa ketegangan geopolitik yang memicu kenaikan harga minyak berpotensi memperburuk tekanan inflasi global.

Kebijakan moneter yang tetap ketat diprediksi akan terus membayangi aset berisiko dalam jangka pendek.

Namun, arus masuk dana institusional melalui ETF Bitcoin spot dinilai menjadi penyokong utama yang mampu menjaga peluang pemulihan pasar.

Data menunjukkan arus masuk dana ke aset digital diproyeksikan mencapai US$ 50 miliar sepanjang tahun ini.

Pada September lalu, ETF Bitcoin spot di AS bahkan berhasil membukukan arus masuk bersih sebesar US$ 2,65 miliar.

Selain arus dana, industri kripto juga menaruh harapan pada tren tokenisasi Real World Asset (RWA) yang menarik minat besar dari institusi keuangan global.

Morgan Stanley memproyeksikan kapitalisasi tokenisasi ini dapat menyentuh angka US$ 3 triliun hingga US$ 10 triliun pada tahun 2030 mendatang.

Dari sisi teknikal, Bitcoin memerlukan dorongan volume transaksi yang konsisten untuk menembus level resistance di kisaran US$ 85.000 hingga US$ 86.000.

Area Moving Average 20 hari di level US$ 83.906 saat ini menjadi titik penghambat awal sebelum mencapai target harga yang lebih tinggi.

Untuk kuartal IV 2026, Yudhono memproyeksikan Bitcoin akan bergerak dalam rentang konsolidasi antara US$ 75.000 hingga US$ 90.000.

Peluang untuk menembus level psikologis US$ 100.000 tetap terbuka lebar jika kondisi makroekonomi berbalik menjadi lebih akomodatif.

Selain Bitcoin, pelaku pasar juga disarankan memantau perkembangan ekosistem Ethereum, Solana, dan Chainlink yang didukung oleh pembaruan teknologi dan tren tokenisasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *