Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melanjutkan tren kenaikan pada perdagangan hari ini, Jumat (4/9/2026), setelah mencatatkan reli penguatan sebesar 1,09% ke level 6.667,89 pada penutupan perdagangan kemarin.

Meskipun sentimen pasar cenderung positif, para pelaku pasar diminta untuk tetap waspada terhadap potensi aksi ambil untung atau profit taking yang kerap terjadi menjelang akhir pekan.

Head of Research KISI, Muhammad Wafi, dalam analisisnya menyebutkan bahwa indeks telah berhasil menembus area resistance krusial di rentang 6.635 hingga 6.666.

“Jika momentum berlanjut, indeks berpeluang menguji resistance berikutnya di 6.700–6.730, dengan support di kisaran 6.476–6.500,” ujarnya.

Wafi menambahkan bahwa meskipun tren sedang positif, investor harus tetap berhati-hati karena kenaikan tajam yang terjadi setelah reli selama sepekan meningkatkan risiko koreksi teknikal.

“Given kenaikan tajam hari ini setelah sepekan rally, risiko profit taking genuinely perlu diwaspadai,” tutur Wafi.

Sentimen positif yang mendasari optimisme pasar saat ini didorong oleh berbagai faktor eksternal, termasuk penguatan mayoritas bursa di kawasan Asia.

Selain itu, penurunan tingkat imbal hasil atau yield pada surat utang pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) turut memberikan angin segar bagi pasar saham domestik.

Penguatan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS serta kenaikan harga komoditas utama, seperti emas dan batu bara, juga menjadi katalis yang menopang pergerakan indeks.

Di sisi domestik, pasar merespons positif atas konfirmasi Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI).

Stabilitas data inflasi bulan Agustus yang tetap terjaga turut memberikan kepercayaan diri tambahan bagi investor di dalam negeri.

Sementara itu, Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memproyeksikan IHSG masih memiliki peluang untuk bergerak di zona hijau meskipun potensi koreksi jangka pendek tetap terbuka lebar.

Ia memprediksi level support berada di angka 6.655, dengan target resistance yang dipatok pada level 6.714.

Senada dengan pandangan tersebut, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, memperkirakan indeks berpeluang menguji level 6.705.

Alrich mengingatkan bahwa aksi profit taking di akhir pekan dapat menahan laju indeks, dengan menempatkan support di angka 6.600 dan resistance di 6.700.

Investor kini mengalihkan perhatian pada data tenaga kerja Amerika Serikat, termasuk laporan nonfarm payrolls (NFP) dan tingkat pengangguran sebagai indikator kebijakan suku bunga The Fed.

Selain itu, dinamika geopolitik di Timur Tengah dan pertemuan OPEC+ yang dijadwalkan berlangsung pada 6 September menjadi perhatian utama karena berpotensi memengaruhi volatilitas harga minyak dunia.

Terkait strategi investasi, Wafi merekomendasikan saham CDIA dengan strategi trading buy pada area 660–690, dengan target harga 735 dan 765, serta stop loss di bawah 630.

Untuk sektor properti, SMRA disarankan pada area 316–322, dengan target 336 dan 344, serta stop loss di bawah 310.

Analis lainnya turut memberikan rekomendasi pada saham ASII di rentang 5.125–5.200 dan BMRI di rentang 4.510–4.590.

Sementara itu, Alrich menyarankan investor untuk mencermati saham JPFA, PANI, CPIN, ANTM, dan ARCI sebagai pilihan utama pada perdagangan hari ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *