Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Jumat, 21 Agustus 2026.
Mata uang Garuda berhasil terapresiasi sebesar 54 poin menjadi Rp17.694 per dolar AS.
Posisi ini menunjukkan perbaikan dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.748 per dolar AS.
Penguatan rupiah dipicu oleh dinamika kebijakan moneter dan fiskal di Amerika Serikat.
Departemen Keuangan AS baru saja mengumumkan peningkatan program pembelian kembali atau buyback surat berharga negara jangka panjang.
Volume pembelian tersebut ditingkatkan menjadi setidaknya US$4 miliar per operasi selama kuartal mendatang.
Langkah strategis ini bertujuan untuk menurunkan imbal hasil surat utang AS jangka panjang di pasar global.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan bahwa pemerintah AS membuka ruang untuk menambah volume pembelian tersebut.
“Tingkat imbal hasil saat ini dinilai belum sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi AS,” ujar Ibrahim, sebagaimana dikutip dari analisis pasar, Jumat (21/8/2026).
Data ekonomi AS yang menunjukkan stabilitas pasar tenaga kerja juga turut memberikan sentimen positif bagi pasar.
Klaim tunjangan pengangguran mingguan tercatat mengalami penurunan di tengah spekulasi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Investor global saat ini masih menanti kejelasan waktu perubahan suku bunga dari bank sentral AS tersebut.
Di sisi lain, pasar keuangan global masih dibayangi oleh ketegangan geopolitik antara AS dan Iran.
Kesepakatan damai antarpihak yang berkonflik dilaporkan berakhir pekan ini tanpa ada kelanjutan perundingan baru.
Presiden AS Donald Trump bahkan melontarkan ancaman tindakan ekonomi bagi negara-negara yang memberikan dukungan kepada Teheran.
Situasi semakin memanas setelah Uni Emirat Arab memutuskan untuk menangguhkan seluruh transaksi ekonomi dengan Iran.
Sementara itu, dari dalam negeri, sektor perbankan Indonesia mencatatkan kinerja kredit yang cukup solid.
Pertumbuhan kredit perbankan nasional pada Juli 2026 mencapai 13,58% secara tahunan atau year-on-year.
Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan pertumbuhan pada Juni yang berada di kisaran 12,67% year-on-year.
Ibrahim menilai pencapaian ini merupakan hasil dari insentif likuiditas dan kebijakan makroprudensial Bank Indonesia yang akomodatif.
Kondisi permodalan perbankan pun terjaga dengan rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio di level 23,70%.
Adapun rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan tetap stabil di angka 2,09% secara bruto.
Namun, tantangan ekonomi domestik masih membayangi stabilitas rupiah ke depan.
Defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II 2026 melebar menjadi US$12,5 miliar atau setara 3,3% terhadap PDB.
Angka ini melonjak tajam dari defisit kuartal I yang hanya sebesar US$3,6 miliar atau 1% terhadap PDB.
Risiko inflasi pangan akibat fenomena El Niño juga menjadi perhatian serius para pelaku pasar.
Potensi kekeringan berkepanjangan dikhawatirkan dapat menurunkan produksi pertanian nasional.
Jika pasokan beras dan komoditas pangan lainnya terganggu, harga barang diprediksi akan melonjak.
Kenaikan harga pangan berisiko menekan daya beli masyarakat sekaligus menurunkan tingkat kepercayaan konsumen dalam jangka menengah.










