New York – Bursa saham Amerika Serikat berakhir di zona hijau pada perdagangan akhir pekan, Jumat (11/9/2026), di tengah respons pasar terhadap dinamika inflasi dan kebijakan moneter mendatang.
Indeks S&P 500 mencatatkan apresiasi sebesar 0,86% dan ditutup pada posisi 7.656,98 poin.
Penguatan serupa juga dialami oleh indeks Nasdaq yang naik 0,96% ke level 26.333,04 poin.
Sementara itu, Dow Jones Industrial Average berhasil ditutup lebih tinggi 0,98% di level 52.573,29 poin.
Sentimen pasar didorong oleh data harga konsumen yang menunjukkan peningkatan signifikan akibat lonjakan harga bensin pada bulan lalu.
Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi pelaku pasar bahwa Federal Reserve akan segera mengambil langkah pengetatan moneter pada pertemuan kebijakan Rabu depan.
Menurut data dari alat pemantau CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga melonjak hingga hampir 90%.
Angka tersebut menunjukkan peningkatan tajam dibandingkan estimasi sebesar 72% pada hari Kamis sebelumnya.
“Itu sudah hampir pasti terjadi,” ujar Thomas Martin, manajer portofolio senior di GLOBALT Investments di Atlanta, sebagaimana dikutip dari Reuters.
Martin menambahkan bahwa langkah bank sentral untuk menaikkan suku bunga dipandang positif dalam upaya mengendalikan inflasi yang masih menjadi beban ekonomi.
Reli yang terjadi pada Jumat lalu sedikit meredam kekhawatiran investor mengenai kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah atau US Treasury.
Selain itu, pasar sempat tertekan oleh sentimen negatif terkait biaya belanja besar-besaran untuk pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI).
Meski indeks S&P 500 sempat turun sekitar 2% dari rekor penutupan tertingginya pada 13 Agustus lalu, indeks ini masih mencatatkan kenaikan akumulatif sebesar 12% sepanjang tahun 2026.
Secara mingguan, performa pasar memang masih berada di zona merah dengan S&P 500 turun 0,8% dan Nasdaq terkoreksi 0,7%.
Valuasi S&P 500 saat ini diperdagangkan pada level 19 kali lipat dari perkiraan laba.
Angka tersebut tercatat sebagai level termurah sejak April 2025, periode saat kebijakan tarif “Liberation Day” dari Presiden Donald Trump memicu volatilitas pasar global.
Di sisi lain, harga minyak mentah menunjukkan pelemahan pada penutupan perdagangan.
Meskipun demikian, harga minyak masih mencatat kenaikan sekitar 9% dalam hitungan mingguan.
Sentimen tersebut dipicu oleh ketegangan di jalur pelayaran Timur Tengah yang menimbulkan kekhawatiran akan adanya gangguan pasokan energi dalam jangka panjang.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent sempat turun hampir 3%, namun tetap bertahan di atas level US$104 per barel.
Aktivitas perdagangan di bursa mencatatkan jumlah saham yang naik melampaui jumlah saham yang turun dengan rasio 2,1 banding satu di indeks S&P 500.
Secara keseluruhan, S&P 500 mencatatkan delapan level tertinggi baru dan sembilan level terendah baru.
Sementara itu, Nasdaq mencatatkan 45 level tertinggi baru dan 182 level terendah baru pada sesi perdagangan tersebut.










