Kutai Timur – PT Triputra Agro Persada Tbk (TAP) mengintensifkan strategi mitigasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui pemanfaatan teknologi satelit dan penguatan koordinasi lintas sektoral di wilayah operasionalnya.

Langkah ini bertujuan mempercepat deteksi dini terhadap titik panas (hotspot) guna menekan risiko perluasan api di area perkebunan.

Sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) menjadi instrumen utama dalam operasional perusahaan.

Data satelit yang diperoleh melalui kerja sama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) diterima oleh tim lapangan sebanyak dua kali dalam sehari.

Informasi tersebut kemudian menjadi acuan bagi petugas untuk melakukan verifikasi langsung ke titik koordinat yang dicurigai.

Selain pemantauan digital, perusahaan menerapkan sistem pengawasan fisik selama 24 jam penuh.

Penggunaan menara pantau api dan patroli rutin di area perkebunan menjadi garda terdepan dalam mendeteksi munculnya asap atau indikasi kebakaran.

Di wilayah operasional anak usaha TAP, yakni PT Etam Bersama Lestari (EBL) di Kutai Timur, Kalimantan Timur, kesiapan sarana pemadaman telah disiapkan secara komprehensif.

Perusahaan saat ini mengoperasikan gudang pemadam, sembilan posko patroli, serta 24 menara pemantau api.

Ketersediaan infrastruktur pendukung juga mencakup 30 embung air dan tiga unit drone untuk pemantauan dari udara.

Sebanyak 237 personel satgas karhutla telah disiagakan untuk menangani segala potensi ancaman di lapangan.

Tim tersebut terdiri dari regu inti, tim pendukung, serta Kelompok Tani Peduli Api (KTPA) yang bertugas menjaga kesiapan sarana dan prasarana.

General Manager PT EBL, Heri Suhanta Hernanda, menyatakan bahwa pengendalian karhutla dilakukan melalui pendekatan preventif, promotif, dan kolaboratif.

Pihak perusahaan menerapkan prosedur operasional standar (SOP) pengendalian karhutla serta pemetaan wilayah rawan berdasarkan Fire Danger Rating (FDR).

“Bagi kami, pencegahan karhutla baru bisa berjalan efektif kalau perusahaan, masyarakat, dan pemerintah bergerak dalam satu barisan,” ujar Heri, Selasa (15/9/2026).

Pendekatan kolaboratif diwujudkan melalui kemitraan strategis dengan pemerintah kecamatan, aparat keamanan, dan warga sekitar.

Salah satu inisiatif yang dijalankan adalah pemberian penghargaan Desa Bebas Api guna memotivasi keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan.

Pada Kamis (10/9/2026), PT EBL bersama instansi pemerintah dan unsur keamanan menggelar Apel Siaga Karhutla di Lapangan Desa Tepian Terap, Kutai Timur.

Kegiatan tersebut mencakup sosialisasi serta patroli gabungan di area yang dinilai memiliki tingkat kerawanan tinggi.

Patroli bersama ini dilakukan untuk memastikan kondisi lahan di sekitar perkebunan maupun permukiman warga tetap aman dari potensi kebakaran.

Koordinasi aktif antar-pihak ini diharapkan mampu meningkatkan kesiapsiagaan seluruh elemen dalam menghadapi ancaman karhutla secara berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *