Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menuntaskan perdagangan hari ini, Selasa (1/9/2026), di zona hijau dengan kenaikan sebesar 74,46 poin atau setara 1,14 persen ke posisi 6.599,94.
Kinerja positif indeks domestik ini cukup kontras di tengah kondisi pasar Asia yang mayoritas mengalami pelemahan.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menyatakan bahwa penguatan IHSG terjadi di tengah tekanan eksternal, terutama kenaikan harga minyak dunia akibat eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
“Pergerakan IHSG tetap menguat meskipun mayoritas indeks bursa Asia bergerak melemah dan harga minyak menguat akibat meningkatnya kembali ketegangan AS-Iran,” ungkap Alrich, Selasa (1/9/2026).
Secara sektoral, sektor industri menjadi motor penggerak utama dengan lonjakan mencapai 3,71 persen.
Di sisi lain, sektor basic materials justru mencatatkan kinerja negatif dengan koreksi terdalam sebesar 0,56 persen.
Pergerakan IHSG yang menguat ini terjadi beriringan dengan pelemahan nilai tukar rupiah di pasar spot sebesar 0,12 persen ke level Rp17.744 per dolar AS.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh rilis data ekonomi domestik terbaru yang cukup bervariasi.
Tingkat inflasi Indonesia pada Agustus 2026 tercatat meningkat ke angka 3,19 persen secara tahunan, dibandingkan dengan 2,88 persen pada bulan sebelumnya.
Selain itu, sektor manufaktur tanah air masih menunjukkan perlambatan dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) yang berada di level 49,8, yang mengindikasikan zona kontraksi.
Namun, di tengah tantangan tersebut, neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 tetap mampu mencatatkan surplus sebesar US$0,13 miliar.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai para pelaku pasar merespons positif sejumlah data ekonomi yang baru saja dirilis.
“Market menyambut positif publikasi data indikator ekonomi domestik terkini, termasuk rilis data inflasi yang terjaga, PMI manufaktur, serta surplus neraca perdagangan Indonesia yang terus mempertegas solidnya fundamental ekonomi nasional,” tutur Nafan, Selasa (1/9/2026).
Menyoroti pergerakan teknikal, Alrich mencatat bahwa IHSG sempat menyentuh level 6.608 sebelum akhirnya ditutup sedikit di bawah level psikologis 6.600.
Posisi ini menjadi titik krusial bagi investor untuk memproyeksikan arah pasar pada sesi perdagangan berikutnya.
Ia memprediksi IHSG memiliki peluang untuk menutup gap pada level 6.705 jika mampu bertahan di atas level 6.635.
“Jika IHSG mampu bertahan di atas 6.635, maka berpeluang akan menutup gap di 6.705. Jika tidak, diperkirakan IHSG akan berkonsolidasi pada kisaran 6.535-6.635,” imbuh Alrich.
Sementara itu, untuk perdagangan esok hari, Rabu (2/9/2026), Nafan memproyeksikan indeks akan bergerak dengan level support di angka 6.552 dan 6.453.
Adapun untuk level resistance, Nafan memperkirakan indeks akan mencoba menguji area 6.695 hingga 6.780.










