New York – Pasar saham Amerika Serikat kembali menunjukkan sinyal pelemahan signifikan pada perdagangan Kamis (15/10/2026), dengan indeks Nasdaq Composite mendekati titik terendah dalam kurun waktu satu bulan terakhir.

Sentimen negatif di lantai bursa dipicu oleh gelombang aksi jual masif pada saham-saham yang bergerak di sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Para pelaku pasar kini tengah diselimuti kekhawatiran mendalam mengenai dampak kenaikan suku bunga terhadap keberlanjutan pendanaan sektor teknologi.

Data ekonomi terbaru menunjukkan adanya peningkatan tekanan harga di AS yang semakin meluas, sehingga memicu spekulasi kebijakan pengetatan moneter lanjutan oleh Federal Reserve.

Kondisi ini diperparah dengan rilis data inflasi konsumen yang melampaui ekspektasi pasar, yang sebelumnya telah menekan indeks S&P 500 dan Nasdaq sejak Rabu (14/10/2026).

Pernyataan konservatif dari Taiwan Semiconductor Manufacturing Co (TSMC) mengenai proyeksi ekonomi tahun 2027 turut memperburuk suasana.

Kepala Strategi Investasi Saxo Bank, Charu Chanana, menyatakan bahwa investor kini mulai mempertanyakan rasionalitas valuasi saham teknologi di tengah ketidakpastian biaya pendanaan.

“Penilaian ulang terhadap utang CoreWeave menunjukkan bahwa investor semakin tidak bersedia membiayai pertumbuhan infrastruktur AI dengan biaya berapa pun,” ujar Charu Chanana dalam catatannya.

Operator pusat data, CoreWeave, mencatatkan penurunan saham sebesar 8,5%, setelah sebelumnya anjlok 15% pada sesi perdagangan sebelumnya.

Pergerakan serupa juga dialami oleh raksasa komputasi awan, Oracle, yang kembali mengalami tekanan jual setelah terkoreksi hampir 9% pada sesi sebelumnya.

Sektor produsen cip semikonduktor terpukul keras, dengan Nvidia merosot 3,3%, sementara Micron Technology dan Advanced Micro Devices masing-masing jatuh 5% dan 6,4%.

Indeks saham semikonduktor secara luas terancam kehilangan kapitalisasi pasar hingga US$ 2 triliun, mencatatkan rangkaian penurunan terpanjang sejak Mei 2025.

Sektor teknologi informasi dalam indeks S&P 500 menjadi kontributor utama pelemahan pasar dengan koreksi sebesar 2%.

Di sisi lain, investor mulai mengalihkan aset mereka ke sektor defensif, seperti kesehatan dan barang konsumsi primer, yang masing-masing mencatat kenaikan di atas 2%.

Pergeseran portofolio ke obligasi pemerintah membuat imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun tertekan ke posisi terendah dalam tiga pekan di level 5,0725%.

Indeks volatilitas CBOE, yang sering disebut sebagai indikator ketakutan Wall Street, melonjak ke level tertinggi dalam dua pekan terakhir.

Meskipun laporan pendapatan perusahaan pengembang AI Anthropic menunjukkan pertumbuhan 45% pada kuartal III-2026, sentimen positif tersebut gagal menahan laju penurunan harga saham.

Ketidakpastian biaya pinjaman dan belanja modal infrastruktur AI kini dianggap lebih krusial dibandingkan optimisme laporan keuangan perusahaan.

Pasar saat ini menanti pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) sebagai acuan kebijakan moneter ke depan.

Data harga produsen AS yang mencapai level tertinggi dalam 4,5 tahun pada September semakin mempertegas kekhawatiran inflasi.

Sementara itu, saham perusahaan antariksa Rocket Lab anjlok 15% menyusul pengumuman penundaan peluncuran roket Neutron hingga tahun depan.

Saham FMC juga terperosok lebih dari 38% setelah perusahaan tersebut memangkas proyeksi kinerja kuartal III-2026 secara signifikan akibat kendala operasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *