Jakarta – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) secara resmi menurunkan peringkat PT Adhi Karya Tbk (ADHI) menjadi idSD atau Selective Default.
Keputusan ini diambil setelah emiten konstruksi milik negara tersebut terbukti gagal memenuhi kewajiban pembayaran kupon obligasi.
Pefindo juga melakukan penyesuaian peringkat terhadap sejumlah instrumen surat utang yang diterbitkan perusahaan.
Obligasi Berkelanjutan III (SR Bond III) milik ADHI kini turun ke level idD atau Default.
Sementara itu, peringkat Obligasi Berkelanjutan IV (SR Bond IV) berada di level idCCC.
Lembaga pemeringkat tersebut menempatkan peringkat ADHI serta Obligasi Berkelanjutan IV dalam status CreditWatch dengan Implikasi Negatif.
Kebijakan penurunan peringkat ini dipicu oleh kegagalan pembayaran kupon SR Bond III Tahap III yang jatuh tempo pada 24 Agustus 2026.
Pembayaran tersebut diketahui tidak terselesaikan hingga melewati batas waktu masa perbaikan atau remedial period.
Peristiwa ini menandai puncak dari tren pelemahan performa kredit ADHI sepanjang tahun 2026.
Sepanjang tahun ini, peringkat perusahaan konstruksi tersebut terus mengalami tekanan penurunan yang signifikan.
Pada Maret 2026, Pefindo sempat memberikan peringkat idA- dengan status CreditWatch Negative.
Memasuki Juni 2026, peringkat tersebut masih bertahan di level idA-, namun statusnya berubah menjadi Negative.
Penurunan peringkat mulai terjadi secara agresif pada bulan Juli 2026 saat peringkat ADHI dipangkas ke level idBB dengan status CreditWatch Negative.
Tren negatif berlanjut pada Agustus 2026, di mana peringkat perusahaan kembali turun menjadi idB dengan status CreditWatch Negative.
Pada periode yang sama, salah satu instrumen utang perusahaan sudah berada di level idCCC dengan status serupa.
Pefindo menyatakan akan meninjau kembali peringkat ADHI dan Obligasi Berkelanjutan IV setelah perseroan melunasi kewajiban yang tertunda.
Pihak lembaga pemeringkat menegaskan bahwa pemulihan peringkat bergantung pada penyelesaian pembayaran kupon yang mengalami gagal bayar tersebut.
Kondisi keuangan emiten pelat merah ini menjadi perhatian serius pelaku pasar modal.
Kegagalan bayar ini berdampak langsung pada kepercayaan investor terhadap surat utang yang diterbitkan oleh perusahaan tersebut.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak manajemen ADHI mengenai langkah strategis untuk mengatasi masalah gagal bayar ini.
Para pemegang obligasi kini menanti kepastian langkah restrukturisasi atau percepatan pembayaran dari emiten terkait.
Pefindo akan terus memantau perkembangan situasi keuangan ADHI secara ketat guna memberikan informasi terkini bagi publik dan investor.
Penurunan peringkat ke level Selective Default merupakan sinyal peringatan keras bagi manajemen perusahaan dalam mengelola liabilitas keuangan jangka pendek.
Stabilitas arus kas perusahaan kini menjadi faktor penentu utama dalam pemulihan peringkat kredit di masa mendatang.










