Jakarta – Pasar modal domestik Indonesia menunjukkan tren pelemahan yang signifikan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan koreksi sebesar 2,59 persen ke level 5.936 pada Rabu (14/10/2026).
Tekanan jual tersebut didominasi oleh penurunan tajam pada saham-saham sektor konglomerasi seperti DSSA, BREN, TPIA, dan CUAN.
Data perdagangan menunjukkan sebanyak 11 sektor saham mengalami pelemahan, dengan total 632 saham ditutup di zona merah dan hanya 118 saham yang mencatatkan penguatan.
Namun, di tengah tekanan indeks, investor asing justru masih melakukan aksi beli bersih atau net buy sebesar Rp 81 miliar di pasar reguler.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menyatakan bahwa sentimen pasar saat ini masih dalam kondisi rapuh.
Ia menyoroti adanya risiko konsentrasi indeks, kenaikan harga komoditas minyak dunia, serta ketidakpastian pengawasan pasar sebagai faktor penekan utama.
“Katalis utama yang perlu dicermati ke depannya adalah data inflasi Amerika Serikat pada Rabu dan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada pekan berikutnya,” ujar Rully, dikutip dari laman resmi perusahaan, Rabu (14/10/2026).
Rully menyarankan investor untuk tetap menerapkan pendekatan selektif terhadap saham-saham tertentu dibandingkan mengambil eksposur secara luas terhadap indeks.
Kondisi pasar global turut menambah tekanan pada bursa domestik, di mana harga minyak Brent melonjak 1,8 persen ke level USD 106,65 per barel akibat meningkatnya ketegangan geopolitik.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah mengalami pelemahan hingga menyentuh kisaran Rp 17.900 per dolar AS, sementara Indeks Dolar AS (DXY) menguat ke level 102,6.
Selain pergerakan pasar makro, pelaku pasar kini tengah mencermati risiko fundamental terkait struktur pembiayaan akuisisi saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) oleh kelompok usaha Jhonlin.
Transaksi ini menjadi sorotan karena implikasinya terhadap profil risiko kredit PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).
Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nurkholis Syafruddin, menekankan bahwa penilaian kredit harus didasarkan pada kemampuan membayar utang, bukan sekadar nilai aset yang dijaminkan.
Nurkholis memaparkan bahwa PT Jhonlin Baratama kini memegang 30,25 persen saham BYAN pascatransaksi.
“Setelah transaksi, PT Jhonlin Baratama memegang 30,25 persen saham BYAN. Pada periode tahun buku 2021–2025, BYAN rata-rata membagikan dividen sebesar USD 960 juta per tahun, termasuk USD 500 juta untuk tahun buku 2025,” ungkap Nurkholis.
Meskipun dividen berpotensi menopang pelunasan pinjaman, pihak analis menilai bantalan pembayaran utang masih terbatas karena sangat bergantung pada kebijakan dividen emiten.
Risiko tambahan juga muncul dari ketidakpastian operasional seperti aturan Domestic Market Obligation (DMO) dan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
Oleh karena itu, Mirae Asset tetap mempertahankan pandangan bearish terhadap BMRI dengan mempertimbangkan tantangan fundamental, termasuk rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) yang mencapai 94,4 persen.










