Jakarta – Penjualan instrumen Surat Berharga Negara (SBN) ritel, Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR015, mencatatkan kinerja positif dengan total perolehan mencapai Rp 12,1 triliun hingga Senin, 19 Oktober 2026.
Angka tersebut merepresentasikan 60,6% dari total target penerbitan pemerintah yang dipatok sebesar Rp 20 triliun.
Minat masyarakat yang tinggi ini dipicu oleh ketidakpastian kondisi pasar keuangan global dan domestik saat ini.
Investor cenderung mengalihkan dana mereka ke instrumen yang memiliki jaminan keamanan dari negara.
Chief Operating Officer (COO) Bareksa, Ni Putu Kurniasari, mengungkapkan bahwa SBR015 menjadi pilihan utama bagi investor yang memprioritaskan keamanan modal dengan imbal hasil yang kompetitif.
“Di tengah gejolak pasar saat ini, masyarakat cenderung mencari aset yang aman, dan SBN ritel menjadi pilihan karena imbal hasilnya tetap dan dijamin negara,” ujar Ni Putu pada Senin (19/10/2026).
Pecahan data menunjukkan bahwa SBR015 tenor dua tahun atau SBR015T2 menjadi seri yang paling diminati.
Seri ini telah terserap sebesar Rp 9,60 triliun atau setara dengan 80% dari kuota nasional yang tersedia sebesar Rp 12 triliun.
Sementara itu, SBR015 tenor empat tahun atau SBR015T4 mencatatkan realisasi penjualan sebesar Rp 2,52 triliun.
Angka tersebut baru mencapai 31,5% dari total kuota yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 8 triliun.
Lonjakan pemesanan telah teramati secara signifikan sejak tanggal 15 Oktober 2026 lalu.
Salah satu pendorong utama kenaikan ini adalah momentum jatuh temponya instrumen ORI024-T3.
Banyak investor yang memanfaatkan dana hasil pencairan tersebut untuk melakukan reinvestasi ke dalam SBR015.
“Penjualan SBR015, baik tenor 2 tahun maupun tenor 4 tahun, mulai agresif sejak 15 Oktober kemarin. Pada periode ini ORI024T3 jatuh tempo, sehingga banyak investor melakukan reinvestasi ke SBR015 yang kuponnya lebih tinggi,” jelas Ni Putu.
Tren pemesanan yang menumpuk di akhir masa penawaran merupakan fenomena yang lazim terjadi pada setiap penerbitan seri SBR.
Pihak distributor optimis bahwa momentum ini akan terus berlanjut hingga masa penawaran resmi ditutup.
“Pola ini juga mirip seri SBR sebelumnya, ketika pemesanan menumpuk di hari-hari terakhir. Kami optimistis momentum ini berlanjut sampai penutupan 22 Oktober,” tambah Ni Putu.
SBR015 sendiri menawarkan imbal hasil yang cukup menarik bagi para investor ritel.
Kupon minimal untuk tenor dua tahun ditetapkan sebesar 6,75% per tahun.
Sedangkan untuk tenor empat tahun, kupon minimal yang ditawarkan mencapai 6,85% per tahun.
Kedua seri ini menggunakan skema floating with floor, yang memungkinkan penyesuaian kupon mengikuti suku bunga acuan namun tetap memiliki batas bawah.
Pembayaran kupon dilakukan secara bulanan, memberikan keuntungan arus kas rutin bagi pemegang obligasi.
Masa penawaran SBR015 akan resmi berakhir pada 22 Oktober 2026 pukul 10.00 WIB.










