Jakarta – Pasar saham domestik yang mengalami penguatan signifikan sepanjang Agustus 2026 memberikan dampak positif bagi kinerja reksadana saham di Indonesia.
Salah satu produk yang mencatatkan pertumbuhan impresif adalah Simas Syariah Unggulan yang dikelola oleh Sinarmas Asset Management.
Berdasarkan data Infovesta, reksadana saham tersebut berhasil mencatatkan imbal hasil atau return sebesar 10,28 persen secara bulanan (month-on-month) pada Agustus 2026.
Capaian ini melampaui rata-rata kinerja industri reksadana saham yang hanya mencatatkan return sebesar 3,60 persen pada periode yang sama.
Sebagai pembanding, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat mengalami penguatan sebesar 4,64 persen sepanjang bulan Agustus 2026.
Strategi pemilihan portofolio menjadi kunci utama di balik keberhasilan produk tersebut dalam mengungguli kinerja pasar secara umum.
Merujuk pada fund fact sheet per 31 Juli 2026, alokasi aset terbesar ditempatkan pada Bank Jabar Banten Syariah dengan porsi 18,57 persen.
Selain itu, portofolio juga diisi oleh Aneka Tambang sebesar 18 persen dan Dharma Satya Nusantara sebesar 15,01 persen.
Emiten lainnya yang masuk dalam daftar alokasi utama adalah Archi Indonesia sebesar 12,20 persen serta Japfa Comfeed Indonesia sebesar 11,49 persen.
Meskipun telah mencatatkan kinerja positif, pihak manajer investasi tetap menekankan pentingnya fleksibilitas dalam pengelolaan aset ke depan.
Head of Investment Specialist Sinarmas Asset Management, Domingus Sinarta Ginting, menyatakan bahwa komposisi portofolio akan terus dikelola secara dinamis.
Langkah ini diambil dengan mempertimbangkan perkembangan pasar serta prospek ekonomi yang terus berubah.
“Alokasi aset diharapkan dapat lebih responsif terhadap perubahan kondisi pasar, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, diversifikasi, serta kepatuhan terhadap ketentuan investasi syariah yang berlaku,” ujar Domingus, Kamis (3/9/2026).
Menurutnya, terdapat sejumlah faktor krusial yang menjadi perhatian utama dalam menentukan strategi investasi ke depan.
Faktor-faktor tersebut meliputi kondisi ekonomi global maupun domestik, arah kebijakan moneter, hingga sentimen pasar yang berkembang.
Setiap perubahan pada variabel tersebut akan memicu penyesuaian alokasi aset pada portofolio reksadana yang dikelola.
Pemilihan saham yang tepat menjadi elemen krusial dalam menavigasi dinamika pasar yang fluktuatif.
Pihaknya berkomitmen untuk terus menyesuaikan pilihan investasi dengan peluang yang muncul di setiap sektor dan emiten.
“Fokus kami tetap pada emiten dan sektor yang memiliki fundamental solid serta prospek pertumbuhan yang baik, dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan peluang yang tersedia,” tambah Domingus.
Proyeksi kinerja hingga akhir tahun 2026 dinilai sangat bergantung pada stabilitas ekonomi global dan dinamika domestik.
Manajer investasi akan terus mempertahankan strategi yang adaptif guna menangkap peluang sembari tetap menjaga risiko investasi.
Langkah ini sekaligus menjadi upaya perusahaan untuk memastikan seluruh portofolio tetap mematuhi prinsip syariah yang berlaku di tengah ketidakpastian pasar.









